Viral Video TKA di Cilegon Dihadang, Begini Faktanya

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Jumat, 08 Mar 2019 12:04 WIB
Foto: Tangkapan layar dari video yang viral
Serang - Video yang menampilkan rombongan orang yang diduga tenaga kerja asing (TKA) viral di media sosial. Para TKA itu diduga sempat dihadang warga.

Dalam video itu, terjadi perdebatan antara warga dan perwakilan TKA tersebut. Warga tersebut tampak keberatan atas kedatangan para TKA di salah satu perumahan di Serang, Banten. Kepala Imigrasi Serang, Syamsul, membenarkan rombongan orang dalam video yang viral itu adalah TKA.

"Itu semua tenaga ahli, bukan (tenaga) kasar," ujar Syamsul saat dimintai konfirmasi, Jumat (8/3/2019).




Syamsul memastikan perizinan para TKA itu sudah sesuai dengan aturan. "Hanya geger itu, sempat viral," imbuh Syamsul.

Para TKA itu diketahui bekerja di daerah Cilegon, tetapi bermukim di salah satu perumahan di Serang. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Cilegon, Bukhori, mengaku tidak memiliki wewenang terhadap para TKA itu.

"Mereka bukan di wilayah Cilegon tinggalnya. Kalau sudah 2 wilayah, tanggung jawab provinsi. Itu tanggung jawab nasional," kata Bukhori ketika dimintai konfirmasi terpisah.

Sementara itu, Direktur PT Krakatau Engineering, Utomo Nugroho, membenarkan para TKA di dalam video itu bekerja di perusahaan tersebut. Utomo menyebut mereka dipekerjakan sebagai tenaga ahli yang sedang mengerjakan proyek blast furnace complex untuk peningkatan kapasitas produksi baja nasional.




Utomo memastikan para TKA itu legal. Saat ini, menurutnya, ada 80-100 TKA dari China yang bekerja di perusahaan itu. Mereka sengaja dipekerjakan untuk menguji peralatan karena memang untuk pengujian dibutuhkan tenaga ahli dari negara pemasok teknologi tersebut.

"Bukan permanen. Tugasnya supervisi alat. Ilmunya ditransfer ke operator yang akan me-maintenance pabrik tersebut," ucap Utomo.

Menurut Utomo, video itu viral lantaran para TKA tersebut berbondong-bondong menuju lokasi penginapan yang memang berada di perumahan tersebut. "Di kompleks tersebut memang tidak bisa langsung menuju ke lokasi penginapan mereka sehingga ada jarak tertentu, berbondong-bondong inilah yang menimbulkan interest warga di sekitar kemudian ada record, upload ke media sosial menjadi viral," imbuh Utomo. (dhn/idh)