Pengolahan Air Bersih yang Bebaskan Dahaga di Kepulauan Seribu

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 08 Mar 2019 12:02 WIB
Pengolahan air minum di Kepulauan Seribu (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Dahulu, warga-warga di sejumlah pulau berpenghuni Kepulauan Seribu memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan minum. Kini dahaga warga sudah dibebaskan oleh fasilitas pengolahan air bersih.

Di Pulau Pramuka, pulau pusat pemerintahan, air payau dari tanah diolah menjadi air yang siap minum. Harganya lebih murah ketimbang air minum kemasan produksi perusahaan-perusahaan besar.

Air dari sumur bor ini pada dasarnya payau, maka harus diolah lagi lewat instalasi Backrish Water Reverse Osmosis (BWRO).

"Ini untuk mengolah air baku dari air tanah sampai menjadi air siap minum," kata operator BWRO di Pulau Seribu, Suwarjo (30), sambil menunjuk tabung-tabung hijau dan biru di dalam bangunan instalasi, Senin (18/2/2019).

Suwarjo menyodorkan air minum produk instalasi BWRO di Pulau Pramuka.  Suwarjo menyodorkan air minum produk instalasi BWRO di Pulau Pramuka. Foto: Danu Damarjati/detikcom


Saya mencoba air hasil instalasi BWRO ini. Suwarjo menuangkan air dari selang langsung ke gelas. Rasanya memang tawar. Tak ada jejak asin air payau atau rasa yang aneh.

"Pengolahan air di sini tidak pakai bahan kimia," ujar Suwarjo.



Dia memegang dua alat, pertama untuk mengetahui kadar Ph, dan kedua untuk mengetahui kandungan padatan terlarut dalam air (Total Dissolved Solids/TDS). Tingkat keasaman atau pH menunjukkan angka 6,2 dan TDS berangka 32. Ini dikatakannya sudah lebih baik ketimbang air minum kemasan merek terkenal.

Warga setempat bernama Ade (18) muncul dari gang membawa dua galon kosong. Dia disuruh orang tuanya beli air. Dia dan keluarga selalu mengonsumsi air dari fasilitas ini tanpa pernah mengalami gangguan kesehatan. Dia merasa air minum produksi fasilitas ini juga jauh lebih tawar dibanding air RO tetangganya dulu. Air segalon dari sini cukup untuk dua hari, mencukupi kebutuhan makan dan minum.

"Nggak pernah sakit perut," kata Ade.

Pemeriksaan tingkat kandungan padatan terlarut (TDS) air produksi instalasi BWRO di Pulau Pramuka.Pemeriksaan tingkat kandungan padatan terlarut (TDS) air produksi instalasi BWRO di Pulau Pramuka. Foto: Danu Damarjati/detikcom


Sumur bor di pojok permukiman Pulau Pramuka sudah dirintis sejak Maret 1995. Fasilitas pengolahan air ini dikelola Suku Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Kepulauan Seribu, Pemerintah Provinsi DKI. Warga membeli air ini dengan harga Rp 25 per liter dalam bentuk satu galon ukuran 19 liter (dibulatkan 20 liter), jadi satu galon air siap minum ditebus warga dengan harga Rp 500 saja. Namun bila ada yang hendak membelinya dengan maksud untuk dijual kembali, harganya adalah Rp 500 per liter alias Rp 10 ribu per galon isi 19 liter (dibulatkan 20 liter). Harga ini tak berubah sejak 2010.



Saat detikcom menyeberang ke Pulau Panggang, pulau padat permukiman, ternyata fasilitas di sini lebih canggih lagi. Bila Pulau Pramuka mengolah air tanah payau menjadi air minum, Pulau Panggang punya fasilitas mengolah air laut menjadi air minum, atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Instalasi SWRO di Pulau Panggang punya kapasitas mengolah 90 meter kubik air dan memproduksi 4 hingga 5 liter air per detik. Meski fasilitas ini masih belum rampung 100 persen, namun air minum hasil produksi ini sudah bisa dinikmati masyarakat.

Pembangunan fasilitas SWRO masih disempurnakan. Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad meninjau pada Senin (19/2/2019), dia agak terkejut saat merasakan asinnya keluaran air minum SWRO. Setelah operator SWRO bernama Khumaidi memastikan segala sesuatunya, air dari keran kemudian menjadi tawar.

Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad mengecek instalasi SWRO, pengolah air laut menjadi air minum, di Pulau Panggang. Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad mengecek instalasi SWRO, pengolah air laut menjadi air minum, di Pulau Panggang. Foto: Danu Damarjati/detikcom


Bupati Husein Murad menjelaskan sebenarnya ketersediaan air bersih masih menjadi masalah di Kepulauan Seribu. Pulau-pulau tak bisa selamanya mengandalkan air tanah untuk mencukupi kebutuhan penduduk.

"Ke depan kita memang berharap air laut diolah menjadi air tawar, karena kalau mengambil air tanah itu tidak layak juga. Pulaunya kecil tapi airnya disedot terus, lama-lama bisa ambles pulaunya," kata Husein.



Memang sudah ada fasilitas pengolahan air minum seperti di Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, ditangani oleh Dinas Sumber Daya Air, namun belum semua pulau punya. "Dari produksi (air bersih) yang ada dengan kebutuhan masih sangat timpang," kata Husein.

Fasilitas SWRO di Pulau Panggang ini sudah memasuki tahap penyelesaian. Selain di Pulau Panggang, SWRO juga sedang dibangun di Pulau Pramuka, Pulau Kelapa, dan Pulau Payung.

"Ada empat (SWRO) tahun ini," kata Husein.

Simak terus kabar dari Bahtera Seva BRI, hanya di detikcom. (dnu/imk)