Round-Up

Duo Waketum Gerindra Tunjuk Hidung Jokowi di Kasus Andi Arief

Tsarina Maharani, Kanavino Ahmad Rizqo, Elza Astari Retaduari - detikNews
Selasa, 05 Mar 2019 20:22 WIB
Foto: Andi Arief. (dok. Istimewa).
Jakarta - Nama capres petahana Joko Widodo ditunjuk oleh dua Waketum Gerindra terkait penangkapan Andi Arief dalam kasus narkoba. Pemerintahan Jokowi disalahkan karena dianggap tidak berhasil dalam pemberantasan penyebaran narkotika di Indonesia.

Adalah Arief Poyuono, Waketum Gerindra yang pertama kali menyalahkan Jokowi atas kasus Andi Arief. Ia menyebut pemerintahan Jokowi telah gagal memberantas narkoba.

"Andi Arief cuma jadi korban kegagalan pemerintah Joko Widodo dalam pemberantasan narkoba di Indonesia," kata Poyuono usai penangkapan Andi Arief, Senin (4/3/2015).

Menurut Poyuono, peredaran narkoba di era Jokowi semakin banyak. Ia juga meminta Andi Arief segera direhabilitasi. "Peredaran narkoba sendiri bukannya makin menurun, malah makin banyak di era Joko Widodo dan makin mengancam generasi Indonesia," tuturnya.

Duo Waketum Gerindra Tunjuk Hidung Jokowi di Kasus Andi AriefFoto: Arief Poyuono. (Tsarina Maharani/detikcom).

Pernyataan Poyuono menimbulkan reaksi keras dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin. Poyuono pun disebut tengah mengigau karena menyalahkan Jokowi atas masalah yang menjerat Wasekjen Partai Demokrat itu.

Tak terima disebut mengigau, Poyuono menjelaskan alasannya menyalahkan Jokowi dalam penangkapan Andi Arief yang juga kerap vokal mengkritisi pemerintah. Ia rupanya merujuk pada pernyataan yang pernah disampaikan oleh eks pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN) Benny Mamoto.

"Kenapa Joko Widodo wajib kami salahkan dalam menyikapi penggunaan narkoba yang paling makin meningkat jumlahnya di Indonesia di era pemerintahan Joko Widodo. Penyelundupan narkoba yang berhasil masuk ke Indonesia di era Joko Widodo diperkirakan jumlahnya jauh lebih besar dibanding keberhasilan aparat membongkar kasus-kasus seperti ini, ini kata-kata seorang mantan pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN) Benny Mamoto," urai Poyuono, Selasa (5/3).

Dia kemudian bicara soal rendahnya pengungkapan penyelundupan narkoba oleh aparat penegak hukum di Indonesia. Menurut Poyuono, Indonesia menjadi sasaran dari penyelundupan jaringan narkoba internasional.


"Dari survei BNN, keberhasilan aparat penegak hukum mengungkap penyelundupan narkoba 'baru sekitar 10%'. Artinya 90 % yang beredar dan dikonsumsi jutaan masyarakat Indonesia yang jadi korban narkoba, nah ini bentuk kegagalan Joko Widodo dalam pemberantasan peredaran narkoba di Indonesia," ujar dia.

Poyuono pun menyebut Andi Arief sebagai korban dari peredaran narkoba. Ia menyebut, banyak pihak yang tidak sadar akan kegagalan pemerintah dalam memberantas peredaran narkoba di Indonesia.

"Maka korban dari peredaran narkoba yang kayak model Andi Arief hingga berjumlah jutaan. Nah kok kami bilang Andi Arief korban kegagalan Joko Widodo dalam hal pemberantasan peredaran narkoba, banyak yang tim sana enggak nyampe pikirannya ya, dimana pengguna narkoba yang korban peredaran narkoba disebabkan oleh gagalnya pemerintah," ucap Poyuono.

Hal senada juga disampaikan oleh Waketum Gerindra lainnya, Fadli Zon. Ia menyebut, penangkapan Andi Arief harus menjadi bahan introspeksi pemerintah.

"Tentu kita sangat prihatin ya dan kita menyerahkan ini pada proses. Saya kira kita harus melihat pada perspektif yang lebih besar bahwa narkoba ini sudah masuk ke semua lini, mulai dari elite sampai rakyat, mulai dari tua sampai yang muda, bahkan sampai anak-anak," kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/3).

Duo Waketum Gerindra Tunjuk Hidung Jokowi di Kasus Andi AriefFoto: Fadli Zon. (Matius Alfons/detikcom).

Fadli menilai penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini meningkat tajam. Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini menyebut pemerintah gagal menangani persoalan narkoba. Fadli pun mengatakan Andi Arief merupakan salah satu contoh korban tersebut.

"Ini situasi yang membahayakan. Pemerintah harus introspeksi ya, pengguna narkoba ini dalam empat-lima tahun ini meningkat tajam, bukan menurun. Artinya, pemerintah sekarang menurut saya gagal dalam menangani persoalan narkoba karena kita lihat jumlah temuannya semakin fantastis," urai Wakil Ketua DPR itu.

"Ada yang sampai ton ada yang sampai berkilo-kilogram ya. Jadi apa yang terjadi pada Saudara Andi Arief mungkin dia merupakan korban dari berbagai macam derasnya masuknya narkoba ke Indonesia," sambung Fadli.

Andi Arief ditangkap karena penyalahgunaan narkoba di Hotel Peninsula, Jakarta Barat, Minggu (3/3). Hasil tes urine menyatakan Andi Arief positif mengonsumsi sabu. Polri menyebut Andi Arief sebagai korban. Andi Arief ada kemungkinan akan direhabilitasi.


Saat ini Andi Arief masih berstatus terperiksa. Polisi punya waktu 3x24 jam untuk menentukan status lanjutan terhadap Andi Arief, yang ditangkap di Hotel Menara Peninsula pada Minggu (3/3).

Partai Demokrat merasa prihatin atas kasus yang menimpa kadernya tersebut. Andi Arief pun menyatakan mengundurkan diri dari posisinya di Demokrat sebagai wasekjen.

TKN Jokowi-Ma'ruf Amin meminta agar kasus penangkapan Andi Arief tidak dipolitisasi. Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding mengingatkan, kasus tersebut murni kasus kriminal.

"Saya berharap kasus narkoba Andi Arief tidak dipolitisasi sebagai bentuk serangan terhadap oposisi. Saya paham ditangkapnya Andi Arief dalam kasus narkoba menjadi pukulan serius bagi Partai Demokrat maupun kubu Prabowo-Sandi. Tentu saja sedikit-banyak akan mempengaruhi citra maupun elektabilitas Partai Demokrat dan Prabowo-Sandi," ujar Karding.

"Pemerintah tegas perangi narkoba, jangan politisasi penangkapan Andi Arief. Saya yakin polisi bekerja profesional berdasarkan bukti yang ada. Narkoba adalah musuh kita bersama dan polisi punya tugas untuk menyelamatkan bangsa ini dari kasus narkoba," tambah anggota Komisi III DPR yang membidangi hukum itu. (elz/tor)