DetikNews
Selasa 05 Maret 2019, 17:32 WIB

LSI Prediksi Kasus Andi Arief Lebih Pengaruh ke PD Dibanding ke Prabowo

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
LSI Prediksi Kasus Andi Arief Lebih Pengaruh ke PD Dibanding ke Prabowo Foto: LSI Denny JA (Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom)
Jakarta - Peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa, menilai kasus penangkapan Wasekjen Partai Demokrat (PD) Andi Arief akan berpengaruh negatif terhadap partainya maupun capres yang diusungnya, Prabowo Subianto. Namun, Partai Demokrat lah yang akan lebih merasakan dampak buruk dari penangkapan itu.

"Dan apapun yang terjadi ini akan berpengaruh, baik itu berpengaruh terhadap baik dukungan capresnya, maupun dalam partai di mana dia berada. Tetapi, di mana damage-nya terkena, apakah ke calon presiden atau ke partainya? Saya melihat bahwa lebih banyak ke partainya," ujar Ardian di Graha Dua Rajawali, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (5/3/20219).


Sebab, kata Ardian, selama ini Andi Arief dikenal lebih sering mengidentikkan dirinya sebagai kader partai daripada pendukung capres. Selain itu, menurut dia, masyarakat lebih banyak melihat sisi historis darimana Andi berasal dan berapa lama ia bergabung dalam partai.

"Sehingga ini akan membuat Partai Demokrat perlu energi baru untuk bisa reborn. Karena kita tahu sendiri, misalnya pada 2009 yang menjadi pemenang pemilu dengan suara 30 persen pada waktu itu, tapi kemudian kadernya banyak tersangkut kasus korupsi, jadi pada 2014 hanya tinggal sekitar 10 persen. Sekarang di survei mungkin sekitar 5-6 persen. Nanti kita lihat apakah dia akan naik atau tidak, memang tergantung dari damage control-nya yang Partai Demokrat lakukan," jelasnya.

Untuk itu, menurut Ardian, penting bagi PD untuk meyakinkan publik bagaimana partainya menangani krisis tersebut agar tidak terulang kembali. Sejauh ini, sikap PD yang akan melindungi tetapi juga menyerahkan kepada proses hukum dinilai sebagai hal yang positif.

"Sejauh ini, yang akan Demokrat lakukan misalnya dengan ya akan melindungi, tetapi juga akan menyerahkan kepada proses hukum yang berlaku, ini jadi poin positif. Pada intinya, ketika ada sebuah krisis dalam satu partai, bagaimana mereka bisa meyakinkan publik bahwa krisis ini bukan permasalahan bagian dari partai, kemudian bagaimana ada mekanisme partai ke depan supaya krisis ini tidak terjadi kembali," papar Ardian.


Seperti diketahui, Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ditangkap karena kasus narkoba pada Minggu (3/3) di Hotel Peninsula, Jakarta. Hasil tes urine menunjukkan bahwa Andi Arief positif menggunakan sabu.

Polisi punya waktu 3x24 jam untuk menentukan status Andi Arief, yang saat ini masih terperiksa. "Yang bersangkutan adalah terperiksa karena penyidik punya waktu 3x24 jam untuk diperiksa," kata Karo Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Senin (4/3).

Tim Bareskrim Polri juga telah mengajukan untuk asesmen Andi Arief ke BNN. Asesmen secara medis sudah dilakukan BNN. "Ketentuannya 6x24 jam," kata Kepala BNN Komjen Heru Winarko. Keluarga Andi Arief pun telah mengajukan rehabilitasi.


Simak juga video Polisi: Andi Arief Ditangkap Sendirian, Tidak Ditemukan Narkoba:

[Gambas:Video 20detik]


(azr/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed