Menteri LHK Pimpin Aksi Bersih Sampah di 74 Lokasi

Menteri LHK Pimpin Aksi Bersih Sampah di 74 Lokasi

Tia Reisha - detikNews
Selasa, 05 Mar 2019 10:05 WIB
Menteri LHK Pimpin Aksi Bersih Sampah di 74 Lokasi
Foto: Dok KLHK
Jakarta - Dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019, kegiatan bersih-bersih sampah kembali diselenggarakan di sejumlah kawasan konservasi di Indonesia. Secara nasional, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memimpin aksi bersih kawasan konservasi yang dipusatkan di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk.

Secara serentak dilakukan juga kegiatan serupa di 74 lokasi di seluruh Indonesia yang terdiri dari berbagai taman nasional dan kawasan konservasi dengan peserta tidak kurang dari 37.000 orang.


"Mencintai Indonesia tidak hanya dengan menikmati keindahan alamnya, namun juga ikut menjaga kelestarian alamnya dari ancaman pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas wisata. Merangkum HPSN 2019 dan gerakan Revolusi Mental melalui kampanye Indonesia Bersih, kita akan wujudkan secara nyata kelola sampah untuk hidup bersih, sehat dan bernilai," ujar Siti dalam keterangan tertulis, Selasa (5/3/2019).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kegiatan yang digelar Senin (4/3), Siti mengatakan bahwa mengelola sampah dengan pendekatan prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle) dapat mendatangkan keuntungan ekonomi sirkular. Namun lebih dari itu, mengelola sampah juga dapat memberikan nilai intangible di sisi sosial dan budaya. Gerakan gotong royong membersihkan sampah di lingkungan rumah dapat mempererat persaudaraan dan meningkatkan toleransi di antara sesama warga.

"Terkadang di kota-kota, masyarakat menyerahkan pengelolaan sampah kepada petugas dengan cara membayar sejumlah biaya. Namun kegiatan gotong royong seperti ini memiliki banyak sisi positif dan harus kita tumbuhkan kembali. Dengan sinergitas seluruh elemen masyarakat, kita optimis dapat mencapai target 100% pengelolaan sampah tertangani dengan baik di tahun 2025 nanti," tegas Siti.

Berbagai regulasi pun telah diterbitkan pemerintah, salah satunya Peraturan Presiden Nomor. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah (Jakstranas). Dalam Jakstranas tersebut, target 100% pengelolaan sampah dapat diraih dari pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah sebesar 70%. Jakstranas juga mendorong pemerintah daerah untuk bisa menerbitkan Kebijakan dan Strategi Daerah Pengelolaan Sampah (Jakstrada) sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Dengan data yang akurat dari berbagai daerah, permasalahan nyata terkait sampah Indonesia dapat dipahami secara komprehensif dan diselesaikan secara holistik.

Terkait dengan sampah plastik, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor. 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut yang menargetkan pengurangan 70% sampah plastik di laut pada tahun 2025.

"Sampah-sampah yang tidak berhasil ditangani dengan baik seringkali berakhir di alam seperti di kawasan konservasi hingga perairan laut. Untuk itulah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya menjadi strategi pertama dan utama dari berbagai regulasi tersebut," lanjut Siti.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh KLHK melalui Direktorat Pengelolaan Sampah pada tahun 2016 terhadap 15 taman nasional dan gunung di Indonesia, diperolah data rata-rata pendaki atau pengunjung menghasilkan 3 kg sampah. Dari sampah yang dihasilkan tersebut, komposisi terbesarnya adalah sampah plastik yang mencapai 56% dari total sampah, sedangkan komposisi sampah organik hanya sebesar 14%.

Sampah plastik dengan karakteristik yang sulit terurai secara alami telah mencemari alam dan mengancam ekosistem. Sampah plastik berukuran kecil seperti mikro plastik dapat tertelan oleh satwa, mengganggu rantai makanan secara keseluruhan, hingga membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, Siti berseru kepada semua pihak untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong kresek maupun botol mineral mulai dari sekarang.

"Jadikan momentum HPSN ini untuk merubah gaya hidup kita menjadi sebuah budaya yang ramah lingkungan. Kita kurangi sampah yang kita hasilkan," ujar Siti.

Kegiatan bersih-bersih kawasan konservasi dilaksanakan secara serentak di 74 lokasi di seluruh Indonesia. Di pulau Sumatera, tercatat 10 taman nasional dan 7 kawasan konservasi turut menyukseskan gerakan ini. Selanjutnya di pulau Jawa sebanyak 12 taman nasiona dan 5 kawasan konservasi, wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 6 taman nasional dan 3 kawasan konservasi, pulau Kalimantan sebanyak 7 taman nasional dan 4 kawasan konservasi, pulau Sulawesi sebanyak 8 taman nasional dan 4 kawasan konservasi, Maluku sebanyak 2 taman nasional dan 1 kawasan konservasi, serta Papua sebanyak 3 taman nasional dan 2 kawasan konservasi.

Siti pun berkesempatan untuk mengadakan video-conference dengan beberapa wilayah tersebut. Bupati Kampar pun melaporkan bahwa kegiatan bersih sampah di wilayahnya berhasil mengumpulkan 350 kg sampah plastik, 35 kg sampah kertas, dan 5 ton sampah organik termasuk di antaranya sampah yang berasal dari pasar tradisional.


Sementara itu, Walikota Jayapura menyampaikan bahwa kegiatan bersih-bersih sampah yang dilaksanakan warganya dari jam 9 pagi hingga jam 1 siang berhasil mengumpulkan 2 ton sampah. Walikota Jayapura menambahkan kegiatan tersebut juga dilaksanakan di gereja-gereja maupun masjid-masjid dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat.

Menerima berbagai laporan tersebut, Siti pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu dalam menyukseskan pengelolaan sampah yang baik di masing-masing wilayahnya. Siti pun optimis bahwa dengan gerakan yang masif dan kontinyu seperti ini target Indonesia Bersih pada 2025 dapat tercapai. (ega/ega)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads