DetikNews
Senin 04 Maret 2019, 19:17 WIB

Driver Ojol Ini Punya Kisah Hidup Seperti Abah di Keluarga Cemara

Tia Reisha - detikNews
Driver Ojol Ini Punya Kisah Hidup Seperti Abah di Keluarga Cemara Foto: Dok Go-Jek
Jakarta - Masih ingat cerita film Keluarga Cemara yang dibuat ulang dengan penyesuaian di masa kini? Setidaknya, ada satu orang yang memiliki perjalanan hidup serupa dengan kisah tersebut, yakni Asep Tatang atau yang akrab disapa Asta oleh rekan-rekannya sesama mitra driver ojek online. Ia mengaku memiliki cerita hidup yang hampir serupa dengan alur film Keluarga Cemara.

Teringat betul dalam benaknya ketika ia menceritakan dengan detail saat-saat menjalani karir di suatu korporasi menangani bagian pengadaan pada tahun 2014. Hingga kemudian ia terpaksa meninggalkan posisinya tersebut di tahun yang sama karena tindakan orang yang tidak bertanggung jawab.


Selanjutnya, seperti cerita abah, Asta terpaksa menyambung hidup dengan menjalani prosesi baru, yaitu sebagai pekerja bangunan di Bandung. Saat menonton film Keluarga Cemara, tak disangka rasa haru pun timbul seiring dengan rasa syukur karena telah melewati masa-masa yang sulit.

"Terus semangat karena hidup tak selamanya sulit. Namun di saat sulit pun jangan lupa untuk terus memberikan manfaat bagi orang lain," ujar Asta dalam keterangan tertulis, Senin (4/3/2019).

Ucapannya ini merujuk pada tahun 2015 lalu saat akhirnya ia bisa mendaftar di Go-Jek sebagai mitra Go-Ride hingga akhirnya diterima.

"Alhamdulillah, sejak tahun 2013 saya ingin sekali mendaftar tapi belum mendapatkan kesempatan. Namun akhirnya saat itu (tahun 2015) saya bisa menjadi bagian dari keluarga besar mitra dan di awal tahun 2019 ini saya bisa mendapatkan apresiasi dari Go-Jek karena tingkat pelayanan yang baik untuk konsumen dengan dijadikan salah satu driver jempolan," tambah Asta.

Menjalani peran sebagai abah dan kepala rumah tangga di dunia nyata membuat bapak dari tiga orang putra ini semakin bersemangat, terutama setelah mendapatkan peluang untuk mencari penghasilan sambil beribadah membantu konsumen.

"Alhamdulillah apabila dulu saat menjadi pekerja bangunan saya mendapatkan penghasilan harian yang saya cukupkan untuk keluarga, namun kini dengan menjadi mitra, saya mendapatkan fleksibilitas dan peluang untuk mencari rezeki lebih banyak sesuai dengan waktu dan keinginan," lanjut Asta.

Ia juga mengungkapkan, selain bisa mendapatkan penghasilan harian yang cukup, kini ia pun sudah bisa memiliki tabungan melalui Tapenas pada program Go-Jek Swadaya.

Melalui program Go-Jek Swadaya, mitra driver mendapat akses pengelolaan keuangan yang meliputi diskon kebutuhan operasional, cicilan ringan, akses layanan jasa keuangan seperti perbankan dan asuransi, serta akses terhadap penghasilan tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Bahkan melalui program Go-Jek Swadaya, Asta bisa memiliki asuransi untuk dirinya sendiri, hingga rencana partisipasi di program lainnya seperti tabungan KPR dan tabungan haji.

Di sela-sela kesibukannya sebagai mitra driver, Asta yang merupakan anak yatim sejak umur dua tahun tersebut memiliki setidaknya dua kesibukan lain sebagai bentuk kontribusi sosialnya untuk masyarakat sekitar.

Kegiatan pertama yang dijalaninya adalah dengan menjadi pengajar di Mesjid Nurul Jihad. Selain menyampaikan kajian, ia juga memberikan bimbingan untuk anak-anak yatim yang sering berkumpul dan belajar di mesjid tersebut. Kegiatan selanjutnya yang dijalani Asta dengan penuh semangat dinamakan Beuki Nabung yang merupakan singkatan dari Berbagi Rezeki Nasi Bungkus.

"Setiap hari Jumat, saya bersama teman-teman mitra dan juga anggota komunitas menyisihkan rezeki kami dengan membelikan nasi bungkus untuk berbagai warga sekitar yang membutuhkan seperti tukang ojek pangkalan, pengemudi angkot dan becak, serta warga tidak mampu yang ditemuinya," ungkapnya.

"Saya paham sekali bahwa masih ada anggota masyarakat yang mengalami kesulitan dan kami bersama-sama ingin membantu meringankan beban tersebut dengan memberikan makanan untuk mereka," sambung Asta.


Dalam setiap kegiatan Beuki Nabung, Asta dan teman-teman membagikan rata-rata sekitar 50 nasi bungkus. Ke depannya, ia berencana untuk meningkatkan jumlah nasi bungkus yang dibagikan menjadi 100 bungkus. Menu yang dibelikan pun variatif, mulai dari pepes hingga ayam goreng dan lain-lain. Asta pun berharap ke depannya akan semakin banyak teman-teman yang bisa turut menyebarkan hal-hal baik dan membantu sesama.

"Pengalaman saya sebagai anak yatim membuat saya terus terpacu untuk bekerja keras dan membantu orang sebanyak mungkin," tutup Asta.
(ega/mul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed