Fadli Zon: Kalau Rezim Sekarang Berlanjut, Banyak yang Bangkrut

Fadli Zon: Kalau Rezim Sekarang Berlanjut, Banyak yang Bangkrut

Farih Maulana - detikNews
Minggu, 03 Mar 2019 21:38 WIB
Fadli Zon: Kalau Rezim Sekarang Berlanjut, Banyak yang Bangkrut
Waketum Gerindra Fadli Zon (Foto: Farih Maulana/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan saat ini banyak perusahaan yang bangkrut. Menurutnya, jika rezim sekarang terus berlanjut, maka akan menuju kebangkrutan.

Fadli awalnya bicara soal kekuatan ibu-ibu atau the power of emak-emak jelang Pemilu 2019. Dia mencontohkan dengan gerakan 2019 ganti presiden yang salah satu tokohnya adalah Neno Warisman.

"Mulai dari 2019 ganti presiden waktu itu saya diteleponin sama Mbak Neno untuk nyanyi lagu itu. Saya masih ingat itu tanggal 30 Mei 2018, belum ketahuan siapa calon presiden, tapi yang jelas pokoknya ganti gitu lah. Lagu itu sampai sekarang masih relevan, masih aktual," kata Fadli dalam acara Relawan Kawal TPS Indonesia (Rekat Indonesia) di Al Jazzeerah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Minggu (3/3/2019).



Dia lalu bicara sulitnya saat deklarasi gerakan tersebut di Jakarta. Menurutnya, setelah dideklarasikan di Jakarta, gerakan tersebut banyak diikuti di berbagai daerah.

Jadi harus diakui sepanjang kita mempunyai tekad semangat juang yang tinggi, insyaallah semuanya bisa kita lakukan dan ini adalah termasuk yang malam ini diluncurkan Mbak Neno dan kawan-kawan yaitu Rekat," ucapnya.

Fadli kemudian menyebut saat ini merupakan momentum yang baik untuk perubahan. Dia menyebut jika tidak terjadi pergantian rezim, maka bisa saja terjadi kebangkrutan.

"Kita melihat bahwa ini momentum yang baik karena menurut saya kita ini bisa menuju kebangkrutan atau justru kita kalau menang kita menuju insyaallah menuju kebangkitan. Kalau kita biarkan rezim yang sekarang ini terus berlanjut saya kira kita akan menuju kebangkrutan. Karena banyak yang sudah bangkrut sekarang ini. Perusahaan-perusahaan swasta yang bangkrut sudah banyak. Begitu juga dengan perusahaan-perusahaan BUMN. Belum lagi utang luar negeri," tuturnya.



Dia juga mengatakan ke depannya bisa saja terjadi ganti rakyat karena banyak rakyat negara lain yang masuk ke Indonesia. Untuk itulah, katanya, diperlukan pergantian presiden dan proses Pemilu harus dikawal agar tidak terjadi kecurangan.

"Bisa saja ke depan ini jadi ganti rakyat. Karena banyak rakyat dari negara asing yg masuk ke dalam negeri jadi ganti rakyat. Karena itulah saya kira bulan depan harus ganti presiden untuk menyelamatkan, yaitu Prabowo-Sandi dan untuk mengawal pergantian, supaya tidak dicurangi saya kira device ini atau aplikasi ini sangat bermanfaat dan sangat berguna," ucap Fadli.

Dia juga bicara soal pemilu di India yang menurutnya menggunakan electronic voting. Fadli menyebut semua pihak di India percaya penyelenggara tidak mungkin berbohong dengan electronic voting tersebut.

"Kalau di india, saya pernah ke india tahun 2015. Waktu itu pemilihnya mereka itu 844 juta pemilih, mereka menggunakan elektronic voting, tapiitu bukan IT," ujarnya.

"Semua pihak percaya bahwa yang ada itu para penyelenggara tidak mungkin berbohong dengan elektronic voting itu," sambungnya.

Kultur seperti yang ada di India tersebut, menurut Fadli, tidak dibangun oleh penyelenggara pemilu di Indonesia. Oleh sebab itu, dia berharap ada perbaikan ke depan.

"Kultur ini yang tidak dibangun oleh penyelenggara pemilu yang akhirnya menurut saya sebuah kegagalan untuk menciptakan peneyelenggra demokrasi yang adil dan inilah saya kira ke depan harus diperbaiki. Mudah-mudahan dengan adanya Rekat dan aplikasinya, kita semua bisa mendapat satu tempat bagi relawan untuk ikut mengawal," pungkas Fadli. (haf/haf)


Berita Terkait