Pedagang Pasar Burung Ngasem Tolak Penyemprotan

Pedagang Pasar Burung Ngasem Tolak Penyemprotan

- detikNews
Selasa, 20 Sep 2005 18:28 WIB
Yogyakarta - Sejumlah pedagang burung di Pasar Burung Ngasem Kota Yogyakarta menolak bila dilakukan penyemprotan desinfektan. Alasan mereka, setelah penyemprotan banyak burung yang stres, sakit dan kemudian mati."Kalau dilakukan penyemprotan seperti bulan Juli lalu, para pedagang jelas menolak, karena takut burung dagangan malah mati," kata Sumaryoso (35) salah seorang pedagang burung di Pasar Ngasem kepada detikcom, Selasa (20/9/2005).Penolakan Sumaryoso berdasarkan pengalaman penyemprotan oleh petugas seksi Kehewanan Dinas Pertanian dan Kehewanan Kota Yogyakarta pada 3 Juli 2005 lalu. Dua hari kemudian banyak burung milik pedagang yang stres dan mati. Sementara burung milik pedagang yang tidak terkena semprotan mampu bertahan.Burung-burung yang mati setelah penyemprotan itu diantaranya jenis Cucakrawa, Kenari, Kacer, Punglor. Terhadap burung yang tidak mati, pemulihan kembali membutuh waktu lama."Awalnya memang stres, tidak mau makan kemudian mati. Itu karena deru suara alat penyemprotan yang bikin burung stres dan takut, kalau akan dilakukan kami menolak, takut rugi. Ngobati burung stres itu juga tak mudah," katanya.Hal senada juga dikatakan oleh pedagang burung Kenari, Dwi Santosa (29), para pengurus persatuan pedagang burung di Pasar Ngasem yang beranggotakan 300-an pedagang itu sepakat menolak bila dilakukan penyemprotan. Namun bila pihak pemerintah tetap ngotot mau melakukan, pedagang mempersilahkan melakukan penyemprotan dengan syarat pemerintah setempat harus bersedia mengganti jika ada hewan yang mati.Menurut Dwi, para pedagang burung sebenarnya tidak anti penyemprotan, tapi mereka hanya takut rugi karena omset bulanan mereka mencapai jutaan hingga belasan juta rupiah. Saat ini mereka juga menyadari pentingnya pencegahan virus flu burung, sehingga sudah ada beberapa orang yang melakukan penyemprotan desinfektan secara swadaya atau sendiri-sendiri. "Kalau dengan alat yang sederhana seperti semprotan kecil yang tidak menimbulkan suara, sudah dilakukan oleh beberapa pedagang," katanya.Bagi Dwi maupun beberapa pedagang burung lainnya, adanya virus flu burung sama sekali tidak berpengaruh pada omset penjualan. Bahkan omset mereka ada yang justru mengalami peningkatan hingga 20 - 30 persen, terutama untuk melayani pesanan dari luar kota seperti Jakarta, Surabaya dan Bali.Omset penjualan burung Kenari dari Pasar Ngasem sejak beberapa bulan terakhir ini meningkat. Bila dua bulan lalu rata-rata hanya sekitar Rp 8 juta, pada bulan ini bisa mencapai Rp 10 - 11 juta. Belum termasuk burung berkicau jenis lainnya seperti jalak uren, cucakrawa, murai batu, perkutut dll. "Omset kita naik karena burung-burung yang berasal dari Ngasem dikenal aman dan sehat," katanya. (jon/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads