Karnivora Dijatah Ayam Masak, Petugas Wajib Bermasker
Selasa, 20 Sep 2005 16:21 WIB
Solo - Untuk mengantisipasi penyebaran virus flu burung, pengelola Taman Satwa Taru Jurug Solo menghentikan konsumsi unggas hidup untuk hewan karnivora. Sebagaigantinya hewan pemakan daging itu diberi makan daging ayam yang telah dimasak. Sedangkan para petugas kebersihan kandang diwajibkan menggunakan masker.Mulai hari ini, Selasa (20/9/2005), pengelola kebun binatang melakukan ujicoba memberi makan ayam masak itu pada tiga jenis hewan karnivora (pemakan daging)yaitu singa, harimau sumatera dan macan tutul. Menurut Kasie Pengembangan dan Perlindungan Hewan TST Jurug drh Siti Nuraini, ujicoba berkaitan kebijakan untuktidak memasukkan unggas hidup untuk konsumsi hewan koleksi.Namun dari pengamatan detikcom, hanya hewan singa yang segera mengonsumsi ayam yang telah dimasak matang itu. Sedangkan harimau sumatera dan harimaututul sama sekali tidak menyentuh jatahnya. Onggokan daging ayam yang dimasukkan ke dalam kandangnya dibiarkan begitu saja, meskipun petugas yakin harimau itu dalam kondisi lapar."Akan kami cobakan dulu kepada tiga jenis karnivora itu selama tiga hingga empat hari ke depan. Karena ini tahap ujicoba maka kami sudah menyediakan daging sapimentah untuk cadangan makan jika hewannya tidak mau memakan daging ayam masak yang kami berikan. Selanjutnya jika memang tidak mau, makanannya akan kami ganti dengan daging kambing atau kuda," paparnya.Selain itu langkah lain yang dilakukan pihak pengelola adalah menambah jadwal sterilisasi kandang, terutama untuk jenis unggas, dari seminggu sekali menjadiseminggu dua kali. Pembersihan yang dilakukan adalah menyapu kotoran hewan yang dilanjutkan dengan penyemprotan desinfektan pada kandang hewan.Seorang petugas mengatakan bahwa peningkatan pembersihan dan penyemprotan kandang itu dilakukan atas perintah dari pimpinan kebun binatang. Selain itu, kata dia, para petugas kebersihan juga diharuskan memakai masker selama bekerja di dekat kandang hewan, terutama jenis unggas.Diharapkan Cepat DitanganiSementara itu para pedagang dan pengelola parkir di kebung binatang yang menggantungkan pencahariannya dari para pengunjung berharap Pemkot dan pengelolakebun binatang segera mengambil langkah cepat agar jangan sampai ada hewan terinfeksi flu burung."Kalau sampai ada hewan kena flu burung lalu kebun binatangnya ditutup seperti di Ragunan, kami rugi besar. Kami kontrak lahan Rp 11 juta tiap tahunnya. Jangankan ditutup, jika kabar flu burung ini lalu membuat orang takut datang saja kami sudah tidak bisa mengembalikan modal," ujar Mujiono, pengelola lahanparkir di sebelah loket masuk.
(asy/)











































