Buntut Panjang Tudingan Pedofilia di Asrama di Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 01 Mar 2019 14:48 WIB
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Denpasar - Polisi menutup kasus dugaan pedofilia di asrama Klungkung, Bali. Ternyata hal ini berbuntut panjang. Pihak yang dirugikan gusar dan melaporkan pihak yang dinilai menyebarkan isu itu ke polisi.

Pelaporan itu dilakukan penasihat hukum I Nyoman Yudhara ke Ditreskrimsus Polda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Jumat (1/3/2019). Nyoman datang bersama beberapa murid yang tinggal di asrama yang dituduh terjadi kasus pedofilia.

Nyoman menyoal pencemaran nama baik asrama itu di media sosial para aktivis anak. Pihaknya merasa dirugikan karena nama baik asrama tercemar dan pemberitaan itu juga berdampak pada psikologis anak-anak yang tinggal di asrama tersebut.

"Intinya tentang pelaporan Pasal 27 ayat (3) pencemaran nama baik lewat ITE yang di-juncto-kan Pasal 45 KUHP," kata Nyoman.

Dia menjelaskan para siswa yang sudah alumni dilibatkan menjadi pengelola asrama. Mereka tidak terima asrama itu dikaitkan dengan tudingan kasus pedofilia yang diduga dilakukan guruji mereka.

"Dampak dari pemberitaan berulang-ulang yang membuat psikologi mereka tertekan. Ashram tidak tahu apa-apa, kalau dalam pertanggungjawaban pidana bukan dia pelakunya. Saya sudah sering menganalogikan mohon maaf, kantor polisi, ada polisi berbuat salah apakah kantornya yang diserang bertubi-tubi," cetusnya.

Dihubungi terpisah, salah seorang yang dipolisikan, Ipung, malah mengapresiasi pelaporan tersebut. Dia malah meminta segera diperiksa polisi agar bisa mengungkap sejumlah nama yang dinilai tahu peristiwa itu.

"Saya memang menunggu, ini perjuangan saya yang terakhir. Kenapa kasus pencemaran nama baik bagi mereka ini nggak masuk. Karena yang saya hajar GI tapi yang melaporkan saya nggak nyambung. Ini pintu masuk buat saya, saya justru berterima kasih," jawab Ipung. (ams/asp)