DetikNews
Jumat 01 Maret 2019, 08:28 WIB

Duh! Alat Pendeteksi Potensi Kebakaran Hutan di Sumsel Dicuri

Raja Adil Siregar - detikNews
Duh! Alat Pendeteksi Potensi Kebakaran Hutan di Sumsel Dicuri Kebakaran Hutan (Antara Foto)
Palembang - Alat pendeteksi kadar air di lahan gambut milik tim Badan Restorasi Gambut (BRG) yang terpasang di beberapa titik hilang. Alat itu untuk memantau kadar air yang bisa mendeteksi potensi kebakaran.

Hilangnya alat pendeteksi kadar air yang diberi nama sistem pamantauan air lahan gambut atau Sipalaga pun dikhawatirkan BRG. Mereka khawatir lahan di kawasan gambut tidak terpantau kadar airnya dan mudah terbakar.

"Alat ini adalah salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang mudah terjadi di tanah gambut. Padahal di daerah lain belum ada hilang," kata Kepala Pokja Edukasi dan Sosialisasi BRG, Suwignya di Kota Palembang, Kamis (28/2/2019).

Lebih lanjut, Suwignya mengatakan BRG baru pertama kalinya kehilangan alat ini. Meskipun sebenarnya alat pendeteksi itu baru saja dipasang satu tahun silam.

"Untuk Sumsel tahun ini nggak akan ada penambahan alat lagi karena kehilangan kemarin. Alat deteksi itu hargaya Rp 100 juta unit, kami akan tetap maksimalkan 16 alat yang ada," imbuhnya.

Suwignya menyebutkan alat pendeteksi BRG bisa menjangkau kadar kekeringan gambut hingga 30 hektare/unit. Dengan begitu, beberapa lahan yang selama ini dikhawatirkan terbakar setiap tahunnya dapat ditangani sejak dini.

Alat pemantau tinggi air bisa merekam parameter tinggi permukaan air hingga kelembaban tanah dan curah hujan per 10 menit. Selanjutnya alat deteksi akan mengirimkan datanya ke sistem.

Dalam kesempatan yang sama Deputi Edukasi dan Sosialisasi Kemitraan BRG, Myrna Safitri menyebut pihaknya sudah memasang sebanyak 142 alat di tujuh provinsi yang memiliki lahan gambut.

"Total seluruhnya ada 142 alat deteksi, di Sumsel mendapat 21. Tetapi sebenarnya kebutuhan di Sumsel butuh lebih banyak, ya karena anggaran terbatas ini ditunggu dan bertahap," ujarnya.

Myrna menjelaskan alat yang terkoneksi dengan sistem teknologi itu jadi andalan untuk memantau tinggi muka air di lahan gambut. Apabila ketinggian air terdeteksi rendah, maka hal ini menjadi peringatan untuk segera mengantisipasi karhutla.

"Alat itu bisa memberikan peringatan dini kepada kita, jadi sebelum terjadi karhutla sudah diantisipasi. Bahkan kami sudah bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi," tutup Myrna.


(ras/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed