Sidang Karen Agustiawan

Saksi di Sidang Karen Sebut Pertamina Rugi Investasi Blok BMG

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 28 Feb 2019 12:40 WIB
Persidangan Karen Agustiawan (Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom)
Jakarta - Hasil dari investasi Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) disebut tidak sesuai dengan target. Pertamina bahkan kemungkinan tidak mendapatkan untung.

Hal itu disampaikan Deputi Pendanaan dan Manajemen Risiko Pertamina, Evita Maryanti Tagor, saat bersaksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. Evita bersaksi untuk terdakwa Karen Agustiawan yang merupakan mantan Direktur Utama (Dirut) Pertamina.

"Pada awal, memang ada hasilkan minyak di mana masih ada hasilnya sedikit di awal. Tapi memang nggak memberikan hasil yang diharapkan sesuai rencana," ujar Evita saat bersaksi dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019).




Blok BMG dioperatori Roc Oil Company (ROC) Limited Australia. Evita menyebut investasi itu dibuat dengan harapan memperluas sumber minyak mentah, tetapi malah hasil produksinya tidak memenuhi target.

"Itu kan lapangan yang sudah produksi, lapangan itu menghasilkan minyak pada awal, kemudian katakankah hasil targetnya 10 tapi nggak pernah dapat 10, tapi cuma 3. (Produksi) ini diharapkan beri keuntungan untuk minyak Indonesia, tapi ternyata minyak itu nggak bisa atau nggak cukup untuk kita bawa ke Indonesia sehingga hasil nggak rencana," ucapnya.

"Berarti ini nggak untung?" tanya hakim Frangky Tambuwun kepada Evita.

"Saya nggak bisa katakan (nggak untung) karena saya nggak menganalisa, namun seperti itu yang saya ketahui," jawabnya.

Evita juga mengatakan Pertamina investasi ke ROC itu senilai USD 30 juta dolar. Setelah produksi itu dinilai kurang menentukan, kerja sama dengan ROC itu diberhentikan dan uang USD 30 juta Pertamina tidak kembali.

"Dari USD 30 juta ada nggak uang kembali?" tanya Frangky

"Nggak bisa kembali yang mulia, lapangan juga sudah dikembalikan ke pemerintah Australia," ungkapnya.




Dalam kasus ini, Karen didakwa ikut melakukan korupsi dalam investasi blok BMG dan juga melawan hukum dalam investasi Pertamina sehingga menyebabkan kerugian keuangan negara.

Dalam surat dakwaan diuraikan Pertamina tidak memperoleh keuntungan secara ekonomis lewat investasi di Blok BMG. Sebab sejak 20 Agustus 2010 ROC selaku operator di blok BMG menghentikan produksi dengan alasan lapangan tersebut tidak ekonomis lagi.

"Walau sejak 20 Agustus 2010, ROC telah menghentikan produksi di Blok BMG, namun berdasarkan SPA antara PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan ROC, PT PHE wajib membayar kewajiban biaya operasional )cash call) dari blok BMG Australia sampai dengan tahun 2012 sehingga hal tersebut menambah beban kerugian bagi PT Pertamina," papar jaksa saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Kamis (31/1). (zap/dhn)