detikNews
Rabu 27 Februari 2019, 20:04 WIB

Jurnalis CNN Indonesia Laporkan Dugaan Intimidasi di Munajat 212

Samsuduha Wildansyah - detikNews
Jurnalis CNN Indonesia Laporkan Dugaan Intimidasi di Munajat 212 Foto: Samsuduha Wildansyah/detikcom
Jakarta - Jurnalis CNN Indonesia TV, Endra Rizaldi, melaporkan peristiwa dugaan intimidasi yang dialaminya ketika meliput Munajat 212 di Monas, Jakarta Pusat. Endra dipaksa menghapus rekaman video hasil liputannya oleh sejumlah oknum peserta Munajat.

Endra menjelaskan intimidasi berawal ketika dia meliput kegiatan Munajat 212 pada Kamis (21/2) malam. Dia saat itu mendengar ada kericuhan karena ada pencopet yang ditangkap di tengah massa.

"Kita samperin, sudah mulai ramai kerumunan dari pihak panitia. Kita nggak tahu yang copet itu kayak gimana karena mereka semua kan pakai baju putih-putih. Saya record sekitar 5-8 detik," kata Endra di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Tidak lama kemudian, seseorang yang mengaku sebagai panitia keamanan menyuruhnya mematikan kamera. Orang tersebut mengusir wartawan dari lokasi tersebut.

"Matiin kamera, jangan ada media, jangan ada wartawan," Endra mengulang ucapan pria itu.

Endra kemudian mematikan kamera beserta lampunya. Tidak lama kemudian, sejumlah orang mendorong badannya menjauhi lokasi di belakang panggung VIP.

"Ya sudah, saya pikir mending menjauh sama Joni yang jagain dari belakang dari tangan-tangan yang berusaha ngedorong saya. Kira-kira 50 meter kami berjalan dari titik awal saya menjauh," lanjutnya.

Di situ, Endra 'diinterogasi' oleh beberapa orang. Mereka memaksa Endra menghapus video hasil rekamannya.



"Ya saya jawab saya dari CNN. (Kemudian ditanya), 'Tadi ngambil gambar apa?'. Saya bilang saya nggak ngambil gambar banyak. 'Coba lihat.' Oke, saya kasih lihat, terus nggak lama (dibilang), 'Hapus gambar ini'," sambungnya.

Tidak lama kemudian, lanjut Endra, beberapa orang lainnya ikut berbicara dan membuat situasi semakin panas. Bahkan ada yang menuding Endra dibayar untuk menjelek-jelekkan peserta aksi.

"Awalnya satu orang yang ngomong, nggak lama datang teman-teman mereka bilang 'hapus saja gambar ini, kenapa sih kalian dari media senang banget bikin berita yang jelek-jelek? Bikin berita yang bagus bagus, dong. Kalian dibayar berapa sih buat gambar ini?' Saya nggak ladenin pertanyaan itu," tutur Endra.

Endra kemudian menjelaskan dirinya hanya mau mengambil peristiwa pencopetan. Namun mereka tidak percaya, sehingga memeriksa kamera Endra dan memutar beberapa video yang salah satunya berisi soal wawancara dengan Neno Warisman.

"Saya bilang, tadi ada peristiwa copet, saya refleks ambil gambar itu tanpa niat apa pun. Setelah itu saya hapus, tapi mereka masih kurang percaya, akhirnya mereka lihat klip lain yang isinya doorstop Ibu Neno Warisman. Saya play di kamera saya, setelah saya play sampai habis, mereka baru percaya tidak ada gambar kegiatan mereka lagi. Baru kami dikasih jalan dengan ucapan tambahan 'habis ini keluar, ya'," lanjutnya.

Selain Endra, jurnalis detikcom, Satria, menjadi korban intimidasi. Namun lokasi Satria diintimidasi berbeda dengan Endra.

"Beda. Kita dipisahin. Jadi kita diarahkan ke IRTI, kalau kawan kita dari detikcom itu kan dibelokin ke tenda VIP," tuturnya.

Atas tindakan itulah CNN Indonesia melaporkan hal itu ke Polda Metro Jaya. Laporan polisi itu tetuang di nomor polisi, LP/1219/II/2019/PMJ/Dit. Reskrimum.

Sekjen Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Revolusi Riza mendukung penuh pelaporan ini. Menurut Revo, masih banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis. Penegakan hukum terhadap persoalan ini diperlukan.

"AJI tentunya mendukung pelaporan ini karena, bagaimanapun, dari catatan AJI itu kan kita masih punya persoalan besar tentang kebebasan pers. Jadi masih banyak kasus kasus kekerasan yang sering terjadi di Indonesia," ujar Revo, yang juga merupakan Kepala Divisi News Gathering CNN Indonesia TV ini.

"AJI mencatat tahun lalu kan rata-rata sekitar 60 kasus setiap tahunnya. Jadi artinya per bulan ada 5 jurnalis menjadi korban kekerasan. Dari angka sebanyak itu, sangat jarang yang bisa sampai masuk ke ranah hukum. Kalau misalnya ada penegakan hukumnya, kami sangat mendukung," sambungnya.



Tanggapan Penyelenggara atas Dugaan Intimidasi

Sebelum ini sudah ada pelaporan mengenai intimidasi jurnalis di acara Munajat 212. MUI DKI Jakarta, yang merupakan penyelenggara acara, menyatakan tidak ada panitia yang terlibat. Meski begitu, MUI DKI menyatakan akan mendukung penuh proses hukum di kepolisian.

"Sementara itu, terkait insiden kericuhan yang berujung pada intimidasi terhadap jurnalis, MUI DKI Jakarta menjamin bahwa tidak ada panitia internal yang terlibat. MUI DKI Jakarta sangat mendukung untuk dilakukan pengusutan hingga tuntas terkait kasus tersebut oleh pihak yang berwenang," demikian pernyataan tertulis Ketum MUI DKI Munahar Muchtar pada 24 Februari lalu.

Munahar menyatakan mendukung pengusutan hingga tuntas terkait kasus kekerasan tersebut. Selain itu, dia mengutuk kekerasan terhadap jurnalis.

"Kami MUI DKI Jakarta mendukung sepenuhnya pihak berwajib untuk mengusut insiden tersebut setuntas-tuntasnya. Kami mengutuk kekerasan kepada jurnalis yang sedang melakukan tugas jurnalistiknya. Ke depannya, kami berharap tidak terjadi lagi insiden-insiden serupa," kata Munahar.

Sedangkan Ketua Panitia Munajat 212 Habib Idrus al-Habsyi menyatakan sangat menyayangkan peristiwa itu. Hal itu, menurutnya, membuat suasana Munajat 212 menjadi terganggu.

"Kami dari pihak panitia tentu saja sangat menyayangkan dan menyesalkan peristiwa tersebut. Karena suasana doa dan munajat yang seharusnya khusyuk menjadi terganggu oleh keberadaan para pencopet dan pembuat gaduh tersebut," ujar Habib Idrus dalam pernyataannya yang disampaikan oleh jubir FPI Munarman.

"Kami selaku panitia melihat, adanya upaya membesar-besarkan masalah dan mengalihkan isu, yaitu dari keberhasilan acara Munajat 212 yang khusyuk dan syahdu dari upaya umat mengetuk pintu langit mengadu kepada Allah Sang Penguasa Bumi dan Langit, menjadi persoalan kekerasan dan dijadikan spin issue untuk mem-framing kegiatan Munajat dan FPI sebagai suatu peristiwa yang negatif. Kami selaku panitia melihat bahwa adanya upaya yang sistematis untuk melakukan labeling dan framing oleh gerakan anti-Islam yang ditujukan untuk mengalihkan dan membelokkan kegiatan doa dan munajat sebagai peristiwa yang terkait erat dengan kekerasan. Labeling dan framing yang dilakukan terhadap kegiatan doa dan munajat merupakan kejahatan terhadap akal sehat dan intelektualisme," sambung Habib Idrus.


(mea/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed