7 Bulan Belum Digaji, Karyawan Bouraq Demo
Senin, 19 Sep 2005 18:27 WIB
Jakarta - Aksi keprihatinan digelar sekitar 35 karyawan PT Bouraq Airlines. Mereka menuntut pihak manajemen Bouraq segera membayar gaji mereka yang selama 7 bulan belum turun.Aksi dilakukan di depan kantor pusat PT Bouraq Airlines, Jl Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan, mulai pukul 15.00 WIB, Senin (19/9/2005).Sekitar 35 karyawan yang beraksi mengaku sekaligus mewakili sekitar 650 karyawan Bouraq yang mengalami nasib sama. Berbagai poster diusung, antara lain bertuliskan, "Mana gaji kami?" dan "Kami butuh gaji, bukan janji".Aksi ini diakhiri dengan pembicaraan antara perwakilan dari Forum Komunikasi Karyawan Bouraq Airlines (FKKBA) dengan pihak manajemen PT Bouraq Airlines.Dalam pertemuan itu, FKKBA memberikan deadline kepada pihak manajemen hingga 30 September untuk segera membayar gaji mereka minimal 4 bulan saja."Kalau tidak dibayar juga, kami akan mengajukan ke jalur hukum dan melakukan aksi-aksi keprihatinan lainnya yang akan jauh lebih besar jumlahnya," ancam Sekjen FKKBA Hentje Pongoh.Namun permintaan itu ditolak pihak manajemen karena sudah berencana untuk segera membayarkan gaji karyawan pada awal Oktober 2005."Kami juga masih menunggu penjualan 2 aset tanah yang dimiliki pemilik Bouraq, yaitu keluarga Sumendap, serta penjualan aset-aset kantor yang diperkirakan harganya mencapai Rp 200 miliar," ujar Kepala Departemen Umum Bouraq Aris Yatno Utomo.Aris menjelaskan aset itu adalah tanah seluas 2 hektar yang berada di daerah kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan 19,6 hektar tanah di daerah Cibulan."Di Jagakarsa dijual Rp 1,5 juta per meter, sedangkan yang di Cibulan dijual Rp 1 juta per meter," ungkap Aris.Namun keterangan dari pihak manajemen ini tidak membuat seluruh karyawan suka mendengarnya. Banyak yang pesimistis terhadap langkah yang diambil pihak pemilik Bouraq untuk menjual aset miliknya."Harga yang ditawarkan terlalu tinggi. Padahal pada bulan Mei lalu sudah ada investor yang tertarik untuk berinvestasi, namun hingga kini keadaan belum berubah," keluh Kordinator Aksi Hendri.Pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit ini ternyata tidak membuahkan satu keputusan pun, baik dari pihak manajemen maupun dari pihak karyawan.
(ary/)











































