Diduga Diborong Industri, Solar di SPBU Riau Langka

Diduga Diborong Industri, Solar di SPBU Riau Langka

- detikNews
Senin, 19 Sep 2005 16:38 WIB
Pekanbaru - Sejumlah SPBU di Riau langka minyak solar sebulan terakhir. Antrean panjang di SPBU pun terjadi. Langkanya solar ini diduga karena pihak industri memborong solar dengan mengerahkan seluruh kendaraannya untuk mengisi solar ke SPBU.Hampir di semua SPBU di Riau terjadi antrean panjang untuk mengisi bahan bakar minyak solar. Tak jarang pula, SPBU juga kehabisan stok solar. Kondisi ini bisa terjadi, karena pemerintah menetapkan harga solar untuk industri 2 setengah kali lebih mahal dari harga subsidi di SPBU."Kalau di SPBU harga solar subsidi Rp 2.100 per liternya, maka untuk kebutuhan industri, pemerintah menetapkan harganya sekitar Rp 5.350 per liter. Kondisi ini memungkinkan terjadi aksi borong di sejumlah SPBU untuk membeli solar. Karena permintaan minyak solar di Riau saat ini melonjak tajam, lebih dari 20 persen dari kondisi biasa," kata Kepala Pertamina Unit Pemasaran Wilayah I Riau, Gandhi Sriwidodo kepada detikcom, Senin (19/09/2005) di ruang kerjanya Jl. Sisingamangaraja, Pekanbaru.Gandhi menjelaskan, dengan adanya selisih harga itu, ada indikasi pihak industri melepas sejumlah mobil untuk membeli Solar di SPBU, bukan di Pertamina sebagaimana yang ditetapkan pemerintah."Kalau dulu untuk kebutuhan transportasi seperti truk, biasanya hanya diisi di lokasi industri itu sendiri, karena harganya hanya selisih Rp 100 dari SPBU. Sekarang dengan selisih yang sangat jauh, sarana angkutan transportasi disuruh pihak industri untuk mengisi di SPBU. Inilah yang menyebabkan terjadi antrean panjang itu tadi," kata Gandhi.Gandhi menyebut suplai solar untuk wilayah Riau daratan sebesar 1,5 juta liter perhari bagi sektor transportasi dan 2 juta liter per hari bagi sektor industri. Dengan kondisi itu mestinya seluruh SPBU yang ada di Pekanbaru tidak bakal kekurangan Solar. Namum, dengan adanya tren penurunan pembelian solar oleh pihak industri yang mencapai 15 hingga 20 persen, menjadi indikasi kuat adanya pembelian solar oleh pihak industri ke SPBU. "Indikasi yang kita lihat, saat ini pembelian pihak industri menurun hingga 20 persen. Sedangkan kebutuhan solar di SPBU naik menjadi 20 persen. Kondisi itu membuktikan pihak industri melepas seluruh transportasinya untuk membeli solar bersubsidi di SPBU," kata Gandhi.Untuk mencegah lonjakan tersebut, Pertamina Riau membuat kebijakan pembatasan pembelian minyak solar di SPBU. Kebijakan itu antara lain, SPBU dilarang melayani pembelian BBM kepada kendaraan yang berupaya untuk melakukan pembelian lebih dari satu kali dalam sehari. "Sedangkan pelayanan BBM untuk kendaraan pribadi atau angkutan kota roda empat hanya kita layani dengan jumlah yang wajar yakni maksimal 50 liter," kata Gandhi.Truk yang tengah bermuatan dengan roda 6 sampai dengan 8 hanya akan dilayani pembelian BBM solar maksimum 100 liter, sedangkan jenis truk tronton dan bus AKAP hanya boleh mengisi 200 liter. "Bagi truk yang tidak bermuatan, hanya kita beri jatah 25 liter saja," kata Gandhi. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads