Percaya Nggak Percaya! 90 Persen Pengungsi di Riau Lahir 1 Januari

Tim detikcom - detikNews
Senin, 25 Feb 2019 17:39 WIB
Pengungsi di Riau dideportasi (chaidir/detikcom)
Pekanbaru - Mayoritas pengungsi yang kini ditampung di Pekanbaru, Riau, memiliki tanggal lahir yang sama, yakni 1 Januari. Pihak Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru menyatakan hal itu bukanlah sebuah kebetulan.

Pengungsi Basit Ali Sarwari secara sukarela pulang ke negaranya Afghanistan pekan lalu. Ketika dilihat identitasnya, tertera lelaki ini lahir tanggal 1 Januari 2000.

Kemudian pada Senin ini, ada dua pengungsi Afghanistan diberangkatkan dari Pekanbaru ke Jakarta untuk menjalani sejumlah tes di Kedutaan Besar Kanada di Jakarta, untuk mendapatkan penempatan ke negara ketiga.


Pengungsi tersebut bernama Bakh Begum, 66 tahun, dan anaknya bernama Zulaikha Hassani, 26 tahun.

Mereka selama ini tinggal di penampungan Rumah Tasqya, Pekanbaru. Dan keduanya juga dituliskan punya hari ulang tahun yang sama. Bakh Begum lahir pada 1 Januari 1953, sedangkan anaknya Zulaikha lahir pada 1 Januari 1993.

"Setelah dicek memang tanggal kelahiran banyak yang sama, yang beda tahun saja," kata Kepala Rudenim Pekanbaru, Junior Sigalingging sebagaimana dilansir Antara, Senin (25/2/2019).

Ia menunjukkan data pengungsi yang ditampung di Rumah Tasqya, Pekanbaru, sebanyak 146 orang. Hanya 41 pengungsi yang hari lahirnya berbeda.

Selebihnya sekitar 90 persen berulang tahun sama, yakni pada 1 Januari.

Pengungsi yang hari ulang tahunnya sama semuanya berasal dari Afghanistan. Tercatat kini masih ada 1.146 deteni yang berada dalam pengawasan Rudenim Pekanbaru.

Mayoritas berasal dari Afghanistan. Mereka terdiri dari 1.126 pengungsi, pencari suaka yang sudah pasti ditolak (final rejected person) ada 13 orang, immigratoir ada dua, dan pengungsi mandiri ada lima orang.

Ditanya alasan bisa terjadi kesamaan tanggal lahir para pengungsi, Junior Sigalingging menduga karena pencatatan hanya berdasarkan pengakuan saja. Mayoritas pengungsi ketika tertangkap tidak memiliki dokumen seperti paspor apalagi akte kelahiran.

"Ketemu (pengungsi) di laut, diminta data jadi banyak yang sama," katanya.

Apakah mungkin penyamaan hari kelahiran itu supaya para pengungsi tidak repot saat merayakan hari ulang tahun? "Biar nggak repot ngerayain," kata Sigalingging sambil bercanda. (asp/asp)