"Kalau saya melihat sudah telat (peluncuran aplikasi pendeteksi hoax), karena hoax menyebar begitu luar biasa. Pak Jokowi itu diserang dengan informasi hoax dan di fitnah luar biasa. Padahal dalam agama itu fitnah lebih kejam daripada pembunuhan," kata Burhanudin saat memberikan materi dalam acara peluncuran aplikasi deteksi hoax oleh The Jokowi Center, di Hotel Aston Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (23/2/2019).
Dia menyadari serangan hoax bisa menutupi kinerja baik dari pemerintahan Jokowi-JK. Namun, pemerintah tak pernah dibalas dengan cara serupa.
"Dengan banyaknya hoax, apa yang selama ini sudah dikerjakan oleh Pemerintah Jokowi-JK bisa tertutup. Kami bisa saja menyerang tapi tidak kami lakukan, tapi kami nggak pernah buat hoax. Kalau kami lakukan maka sama saja apa yang kami kerjakan dengan para penyebar hoax," ujar Burhanudin.
Burhanudin menyebut pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) punya cara tersendiri untuk menangkal hoax yang menyerang mereka. Salah satu cara menangkal yakni dengan mengulas keberhasilan kerja pemerintah.
"Kami di kantor selalu membuat counter dengan membuat narasi. Salah satunya capaian keberhasilan pemerintahan Jokowi-JK kami kelompokkan menjadi 3, ada infrastruktur, soal pengendalian pangan dan bantuan sosial," terangnya.
Selama kepemimpinan Jokowi-JK, klaim Burhanudin, masyarakat merasakan dampak positif dari kebijakan yang diberlakukan. Dia menyinggung soal Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan pembagian sertifikat tanah.
"Bansos Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, sertifikasi lahan atau legalisasi itu semua produk ini belum tersampaikan dengan baik. Mereka (masyarakat) banyak yang tidak tahu ini program Jokowi-JK. Maka dari itu relawan harus sampaikan ke bawah agar hoax-hoax-hoax dapat teratasi," ujar Burhanuddin.
Diberitakan sebelumnya, The Jokowi Center baru saja meluncurkan aplikasi pendeteksi hoax. Direktur Eksekutif The Jokowi Center Teuku Neta Firdaus mengatakan peluncuran aplikasi pendeteksi hoax ini agar Pilpres 2019 bisa berlangsung lebih nyaman tanpa adanya berita bohong.
"Jika selama ini kita hanya mendengar atau melihat bahwa penyebar hoax itu masih diragukan apakah ini memang terindikasi pada ranah hukum atau tidak. Tapi kalau ini jelas, ketika terdeteksi oleh aplikasi kita bahwa itu melanggar dari Undang-Undang ITE. Jadi siapa yang menyebar hoax akan terdeteksi dengan sendirinya," ujar Teuku. (zak/zak)











































