DetikNews
Sabtu 23 Februari 2019, 12:34 WIB

TKN: Neno Contoh Gamblang Jadikan Agama Kedok untuk Tujuan Politik

Ray Jordan - detikNews
TKN: Neno Contoh Gamblang Jadikan Agama Kedok untuk Tujuan Politik Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma'ruf Amin menanggapi puisi yang dibacakan Neno Warisman di acara Munajat 212, yang digelar di Lapangan Monas, Kamis (21/2) lalu. TKN Jokowi-KH Ma'ruf Amin menilai Neno sebagai contoh orang yang menjadikan agama sebagai kedok untuk tujuan politik.

Wakil Ketua TKN Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, mengatakan apa yang diucapkan Neno Warisman dalam acara Munajat 212 itu tidak pantas disebut sebagai doa. Melainkan cuma orasi politik yang bersifat pragmatis berkedok agama.


"Pilihan diksi dalam ucapannya tampak sekali dibuat untuk menggiring opini publik. Seolah-olah hanya merekalah kelompok yang menyembah Allah. Sedangkan kelompok lain yang berseberangan bukan penyembah Allah. Pertanyaan saya, dari mana Neno bisa mengambil kesimpulan itu? Apa ukurannya sampai ia bisa mengatakan jika pihaknya kalah maka tak akan ada lagi yang menyembah Allah?" kata Karding dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/2/2019).

Dia juga menyebut Neno sebagai contoh paling gamblang yang menjadikan agama untuk tujuan politik. Padahal, kata Karding, Jokowi-KH Ma'ruf Amin juga banyak didukung oleh umat Islam, terutama para ulama dan santri.


"Neno adalah contoh paling gamblang bagaimana agama dijadikan kedok untuk tujuan politik. Ia menafikan kenyataan bahwa Pak Jokowi-Ma'ruf didukung oleh begitu banyak kiai, santri pondok pesantren, umat Islam yang juga menjalankan salat, zakat, haji, dan berbagai kelompok lintas agama. Apa Neno merasa cuma dia dan kelompoknya yang menjalankan ibadah?" Karding mempertanyakan.

Karding menambahkan dirinya paham bahwa seorang umat beragama tidak bisa melepaskan ketentuan-ketentuan yang telah diatur Tuhan dalam menjalankan aktivitas, termasuk saat berpolitik. Tapi, kata Karding, menjadikan nama Tuhan untuk tujuan politik seraya menggiring opini seolah lawan politiknya tidak menyembah Tuhan jelas merupakan hal yang menggelikan.


"Apa Neno mengira bahwa surga dan Tuhan hanya untuk kelompok mereka?" ucap politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Karding juga tidak setuju jika ada yang menganggap Neno terlalu fanatik agama. Sebab, kata Karding, orang yang fanatik agama berarti ia mengerti betul tentang nilai-nilai esensial yang diajarkan agama.

"Seperti menghargai, menghormati, dan menjaga perasaan sesama manusia. Bukan mengklaim seolah kelompoknya yang paling benar dan yang lain salah," katanya.


"Bagi saya, Neno sedang terjerat dalam fanatisme politik. Ucapannya bukan saja mendiskreditkan kelompok yang berlainan politik dengannya, tapi bahkan juga berani mendikte dan mengancam Tuhan," imbuh Neno.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga menanggapi doa yang disampaikan Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu. Fahri menilai yang disampaikan Neno itu adalah doa dan doa Neno itu tidak menyebutkan siapa pihak yang didoakan untuk menang.

"Itu potongan doa, jangan diralat," kata Fahri, saat dihubungi, Jumat (22/2).


Fahri juga mengaku tidak tahu siapa yang dimaksud pihak yang didoakan menang di puisi Neno Warisman itu karena doa bersifat rahasia. "Setahu saya, dia nggak sebut nama Prabowo. Kan nggak bisa diperjelas. Namanya doa, itu privat pada dasarnya," kata Fahri.

Ia menyebut doa sebagai senjata dan rintihan hati. Sementara itu, peserta Munajat 212 mengamini apa yang didoakan Neno Warisman.

"Doa itu senjata. Doa itu rintihan hati. Yang setuju mengaminkan. Jadi seperti sebuah suasana hati yang membacanya," ujar Fahri.


Saksikan juga video 'Puisi Emosional Neno Warisman di Munajat Akbar 212':

[Gambas:Video 20detik]


(jor/bar)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed