DetikNews
Sabtu 23 Februari 2019, 11:48 WIB

Mahfudz Siddiq Nilai Denyut Pileg Tergerus Arus Pilpres

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Mahfudz Siddiq Nilai Denyut Pileg Tergerus Arus Pilpres Politisi PKS Mahfudz Siddiq (Tsarina Maharani/detikcom)
Jakarta - Anggota DPR RI Mahfudz Siddiq menilai sistem pemilu serentak justru berdampak negatif terhadap pemilihan legislatif (pileg). Menurut Mahfudz, pemilu serentak menjadikan pileg tenggelam karena pilpres.

"Rasanya kalau kita keliling di berbagai daerah mencoba merasakan, denyut pileg itu jauh kalah dengan denyut pilpres. Bukan saja atensi, partisipasi masyarakat pemilih, tetapi partai dan caleg-caleg juga seperti tenggelam, tergerus oleh arus besar yang namanya pilpres ini," ujar Mahfudz saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk 'Apa Kabar Pileg' di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/2019).




Mahfudz mengibaratkan kontestasi pileg dan pilpres dalam pemilu serentak seperti acara khitanan yang mengundang Via Vallen. Acara khitanan sebagai pileg, Via Vallen diibaratkan sebagai pilpres.

"Nah kalau saya analogikan, ini seperti seorang anak pengantin sunatan, terus biar ramai ngundang Via Vallen. Jadi akhirnya sebelum acara khitanan itu, yang diperbincangkan masyarakat adalah bukan si 'anu' mau khitan, tapi ditanggal, ini akan ada Via Vallen," jelasnya.

"Padahal pemilik hajat itu sebenarnya yang mau khitanan dan memang banyak orang datang. Tapi sebagian kecilnya datang ke orang yang mau sunat, sebagian besar sisanya ke Via Vallen," imbuh politikus PKS itu.




Mahfudz menyebut dampak negatif juga dirasakan para caleg. Menurut anggota Komisi IV itu, para caleg saat ini bimbang antara mengampanyekan dirinya dan mengampanyekan capres-cawapres yang diusung.

"Karena kalau dia mengampanyekan capresnya, misalnya yang berbeda dengan pilihan dominan masyarakat di situ, ini bisa berimbas juga. Jangan-jangan saya kampanyein capres, kursi legislatif saya hilang," kata Mahfudz.

"Mengenali dua orang capres dan dua orang cawapres lebih mudah daripada mengenali ribuan calon anggota DPR. Artinya adalah masyarakat harus punya ruang perhatian, ruang partisipasi lebih besar di pileg, karena dia harus mengidentifikasi 8 ribu orang," sambungnya.

Peneliti politik Perludem, Heroik M. Pratama, lebih menyoroti tujuan pemilu serentak. Pratama menuturkan pemilu serentak digelar dengan tujuan efektivitas pemerintahan.

"Kita lihat, meskipun putusan MK (Mahkamah Konstitusi) Nomor 14 itu bagaimana desain pemilu serentaknya. Ada dua tujuan yang ingin dicapai. Pertama, soal efisiensi tadi, meskipun politik butuh anggaran, tapi postur anggaran pemilu dibiayai penyelenggara. Esensi utama pemilu serentak untuk efektivitas pemerintahan," papar Pratama.


Saksikan juga video 'Ma'ruf Amin Minta NU Kawal Pileg dan Pilpres 2019':

[Gambas:Video 20detik]


(zak/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed