Kebun Binatang Ragunan Mulai Ditutup Selama 21 Hari
Senin, 19 Sep 2005 06:37 WIB
Jakarta - Kebun Binatang Ragunan (KBR), Jakarta Selatan, mulai hari ini Senin (19/9/2005), ditutup selama 21 hari. Penutupan ini dilakukan karena ditemukannya 19 unggas positif terserang virus flu burung atau avian influenza.Penutupan Taman Margasatwa Jakarta ini, diakui langsung Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono ketika dihubungi detikcom melalui telepon, Minggu (18 September 2005 kemarin. Penutupan kebun binatang seluas 140 hektar ini, sudah didasarkan pada hasil koordinasi antara Departemen Pertanian (Deptan) dengan Pemda DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sudah mengeluarkan instruksi penutupan itu. Instruksi penutupan itu sudah ditandatangani Kepala Dinas Peternakan Pemda DKI Jakarta Edi Setiarto dan Kepala KBR Ismianto. Seperti diberitakan, Mentan menyebutkan 19 unggas di KBR positif terserang flu burung. Satwa-satwa itu antara lain, Belibis Mandarin, Kakatua Raja, Elang Kondor, Belibis Buah, Beo Kecil, Merak Hijau, Bangau Tongtong (3 ekor), Bleang Sumatera, Ayam Katai (5 ekor), Bluek (3 ekor).Langkah penutupan diambil untuk meneliti lebih jauh, keberadaan virus AI pada semua hewan penghuni kebun binatang yang berdiri sejak 1964 itu. Profil KBRKBR pamornya mulai naik kembali ketika pada 20 Agustus 2002, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso meresmikan Pusat Primata Schmutzer. Pusat primata yang dirancang Schmutzer Willie Smits, dibantu Ny Ulla von Mengden dan arsitek Radya ini disebut-sebut sebagai pusat primata terbesar di dunia. Pada tahun 1864, kebun binatang ini terletak di pusat kota Jakarta, yaitu tempat pusat kesenian Jakarta, Taman Ismail Mardjuki Cikini. Semula, kebun binatang ini berada pada areal seluas 10 Ha milik seorang pelukis pribumi terkenal bernama Raden Saleh. Kebun Binatang ini dikelola oleh perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna di Jakarta (Culturule Vereniging Planten en Direntuin at Batavia). Selepas revolusi, tepatnya tahun 1949 namanya diganti menjadi Kebun Binatang Cikini. Akhirnya, pada perayaan seabad kelahirannya di tahun 1964,pemda DKI Jakarta memindahkan kebun binatang ini pada areal yang lebih luas, dengan bentang alam yang lebih menarik yaitu di wilayah Ragunan Jakarta Selatan. Disebutlah nama Taman Margasatwa Jakarta dan lebih dikenal Kebun Binatang Ragunan. Keberhasilan pemindahan ke lokasi di Ragunan, tidak lepas dari jasa tiga tokoh yaitu mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin serta Benyamin Galstaun dan Nyonya.Si 'Panjang' dan Si 'Conny'. Itulah dua nama penghuni KBR tertua. Si Panjang, pemberian nama ini sesuai dengan tubuhnya yang besar dan panjang. Panjang merupakan jenis buaya muara (Crocodylus porosus). Panjangnya sekitar lebih dari 6 meter dengan berat sekitar 600 kg. Usianya cukup tua, 66 tahun. Sedangkan si Conny, merupakan jenis Simpanse (Pan troglodytes) berasal dari Afrika. Tingginya sekitar 1,5 m dan beratnya sekitar 80 kg. Usianya sekitar 64 tahun. Usia Conny adalah rekor tersendiri bagi simpanse yang rata-rata usianya hanya 40 tahun di alam, sedang di penangkaran 50 tahun. Keberadaan si Panjang dan si Conny tidak lepas dari sejarah kebun binatang Ragunan. Keduanya merupakan saksi sejarah kepindahan kebun binatang Cikini ke Ragunan pada tahun 1964.
(ism/)











































