DetikNews
Kamis 21 Februari 2019, 18:33 WIB

Saksi Ini Ngaku ke Paranormal Setor Nama Hakim PN Medan, buat Apa?

Faiq Hidayat - detikNews
Saksi Ini Ngaku ke Paranormal Setor Nama Hakim PN Medan, buat Apa? Sidang lanjutan terdakwa kasus suap hakim PN Medan, Tamin Sukardi, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (21/2/2019). (Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Pengusaha Tamin Sukardi menghadirkan Endang Sri Astuty sebagai saksi meringankan dalam sidang lanjutan kasus suap hakim PN Medan. Endang mengaku pernah memberikan nama-nama hakim yang menangani perkara Tamin Sukardi kepada paranormal.

Dalam persidangan, Endang mengaku mengenal Tamin Sukardi melalui almarhum ayahnya. Endang menganggap Tamin Sukardi sebagai ayah angkat sejak ayahnya meninggal dunia.

"Pak Wahyu dan Sontan," kata Endang saat menjadi saksi meringankan terdakwa Tamin dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Kamis (21/2/2019).

Tamin pernah berstatus terdakwa terkait perkara pengalihan tanah negara/milik PTPN II kepada pihak lain seluas 106 hektare eks HGU PTPN II Tanjung Morawa di Pasar IV Desa Helvetia, Kabupaten Deli Serdang. Perkara itu diadili di PN Medan dengan Wahyu Prasetyo Wibowo sebagai ketua majelis, dua hakim anggota bernama Sontan Merauke Sinaga dan Merry Purba, serta panitera pengganti Wahyu Probo Julianto dan Helpandi.

Endang menyebut saat itu teman dekat menyarankan untuk menemui paranormal agar hakim bisa dipengaruhi melalui doa. Endang mendapatkan nomor handphone paranormal bernama Adi dari teman dekatnya.


Namun saat itu dia sedang berada di Jakarta sehingga Endang menyerahkan nama-nama hakim saat menghubungi paranormal melalui sambungan telepon.

"Paranormal namanya Adi di Medan, saya lagi di Jakarta tidak bisa datang langsung, jadi lewat telepon," kata Endang.

Kepada Endang, jaksa bertanya maksud memberikan nama-nama hakim kepada paranormal. Menurut Endang, pemberian nama hakim itu bertujuan agar hakim berubah pikiran memberikan vonis terhadap Tamin Sukardi.

"Mau dibawa ke paranormal biar didoain, supaya bisa berubah pikirannya, enggak jahat lagi gitu," jelas Endang.

Menurut Endang, pemberian nama hakim itu kepada paranormal atas inisiatifnya, bukan perintah dari Tamin Sukardi. Dia membantah ingin mengguna-guna untuk mencelakai hakim melalui paranormal.

"Tidak ada maksud untuk mencelakai hakim lewat guna-guna?" tanya jaksa.

"Enggak, saya bukan mengguna-guna," tutur dia.

Meski begitu, Endang sempat merasa meyakini hakim akan terpengaruh dengan doa paranormal. Namun putusan hakim terhadap Tamin Sukardi tidak terpengaruh oleh paranormal.

"Katanya sih begitu, rupanya kan enggak juga," katanya.

Dalam persidangan, ketua majelis hakim Rosmina meminta Endang Sri Astuty tidak memberikan nama-nama hakim kepada paranormal. Menurut hakim, cara memberikan nama hakim kepada paranormal merupakan aliran sesat.

Endang Sri Astuty dihadirkan terdakwa Tamin Sukardi sebagai saksi meringankan kasus suap hakim PN Medan. Endang mengaku sebagai anak angkat Tamin Sukardi.

"Tolong disampaikan ke teman-teman, jangan lagi dibawa ke paranormal segala macam, aliran sesat itu," kata Rosmina.

"Kalau enggak ketemu fakta, jangan dikembangbiakkan ke hal-hal enggak bener ya," imbuh dia.

Dalam kasus ini, Tamin didakwa memberikan suap sebesar SGD 280 ribu atau sekitar Rp 2,9 miliar kepada hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan Merry Purba. Uang tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi putusan atas nama Tamin sendiri.

Sedangkan Merry sudah menjalani persidangan. Dia didakwa menerima SGD 150 ribu atau sekitar Rp 1,5 miliar yang berasal dari Tamin.
(fai/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed