Pembalak Kayu di Jambi Pilih Bertobat Kembali Jadi Petani
Minggu, 18 Sep 2005 16:16 WIB
Jambi -
Awalnya seluruh masyarakat Desa Sungai Ruan, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batanghari, Jambi, bekerja sebagai buruh pembalakan liar. Kendati hasilnya lumayan baik, belakangan mereka sadar akan dampak buruk dari pembalakan liar itu. Merekan pun ramai-ramai menjadi petani padi.Sebanyak 150 petani Desa Sungai Ruan, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batanghari, jambi, kini beralih fungsi peekrjaan. Awalnya, lebih dari 75 persen masyarakat desa itu bekerja sebagai buruh pembalak liar. Entah sudah berapa banyak kawasan hutan mereka rambah dengan mengambil kayu-kayu log berkualitas.Tapi rupnya waktu mampu mengubah sikap mereka ke arah yang lebih baik. Lewat pola pendekatan pemerintah daerah serta LSM, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi akhirnya kini masyarakat itu beralih menjadi petani padi. Buktinya saja, masyarakat desa itu kini sudah memiliki lahan pertanian padi mereka seluas seluas 48,65 Ha. Dalam pekan ini, merupakan hari bersejarah buat mereka untuk memanen padi yang telah menguning. "Keinginan masyarakat yang ingin bertani seperti ini harusnya mendapatkan respon tinggi dari pemerintah terkait. Kendati penghasilan dari hasil bertani tidak seberapa, tapi ini patut dihargai. Setidaknya semangat yang ditunjukkan para mantan pebalok yang kini menjadi petani bisa dijadikan contoh bagi masyarakat sekitarnya," jelas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Batanghari, Darmawi, saat dihubungi detikcom, Minggu (18/9/2005).Untuk mengubah sikap dari pembalak liar ke petani padi, tentulah bukan hal yang mudah. Sayuti seorang warga desa mengatakan, untuk mengubah tatanan ekonomi dari pembalak kayu menjadi petani membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. Sebab, dengan mereka membalak, dalam sebulan mereka bisa menerima upah hingga jutaan rupiah."Tapi sekarang di kampung kami ini, seluruh pekerja balak itu mengubah hidupnya dengan pola bercocok tanam. Awalnya jelas kita menemui benturan. Misalkan saja soal dana kebutan hidup sehari-hari. Sebab padi itu sendiri hanya bisa dipanen dengan jangka waktu paling cepat 4 bulan sekali," jelas Sayuti yang sudah 5 tahun bekerja sebagai pembalak liar.Kesadaran untuk meninggalkan pekerjaa lamanya itu muncul setelah diberikan pengarahan pemerintah daerah dan LSM lingkungan. Mereka diberi pengetahuan akan bahaya dampak dari penebangan liar itu. Lagi pula, yang paling diuntungkan adalah para toke balak ketimbang masyarakat."Atas segala penyuluhan yang diberikan pemda dan LSM itu, kami pun akhirnya mencoba untuk mengubah nasib. Sebab, bagaimanapun cepat atau lambat, hutan di daerah kami akan segara sirna. Sebelum itu terjadi kami harus mengubah pola kerja kami yang selama ini sudah salah," ungkap Sayuti ayah empat orang itu yang juga memangku jabatan Ketua Kelompok Petani Merpati di desanya.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































