DetikNews
Kamis 21 Februari 2019, 14:40 WIB

Sudah Sejauh Mana Pemerintah Atasi Masalah Sampah?

Tia Reisha - detikNews
Sudah Sejauh Mana Pemerintah Atasi Masalah Sampah? Foto: Tia Reisha/detikcom
Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat kerja nasional (rakernas) untuk membahas masalah sampah di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyampaikan, pengelolaan sampah di Indonesia sudah mengalami peningkatan meski angkanya masih terbilang kecil.

"Kalau dilihat dari datanya, sekarang itu kita baru mampu mengurangi sampah dari sumbernya hanya kira-kira 3 persen. Tapi pada 2015 masih sekitar 1 persen. Berarti pada 2015 lebih parah kondisinya," ungkap Siti dalam Rakernas Gerakan Indonesia Bersih di Jakarta Selatan, Kamis (21/2/2019).

Dalam acara yang digelar di gedung KLHK, Jakarta Selatan, Kamis (21/2), itu, Siti mengatakan, terhitung sejak 2015 hingga 2018, peningkatan dalam pengelolaan sampah sudah terlihat di beberapa daerah, salah satunya di Leuwi Gajah, Cimahi.


"Peristiwanya dari Leuwi Gajah tahun 2015. Kalau kita lihat dan pakai ukuran-ukuran kebijakan, sebetulnya dari 2015 ke 2018 saja progresnya ada, misalnya pengelolaan sampah itu sudah 72 persen. Pada 2015 itu masih 64 persen," tambah Siti.

Ia pun menuturkan pengelolaan sampah juga dilakukan dengan berdirinya bank sampah, yang jumlahnya sudah mencapai 7.488 pada 2018, sedangkan pada 2015 jumlahnya masih 3.075.

"Saya berterima kasih kepada bank sampah atas peran dan pembinaan. Kalau kita lihat komposisi sampah yang dikelola di bank sampah adalah untuk plastik 30 persen, lalu kertas 33,4 persen. Lalu sisanya aluminium, besi, dan lainnya," jelas Siti.

Ke depannya, ia menyebut KLHK memiliki target mengurangi sampah di Indonesia. Ia menyebut, pada 2025 KLHK menargetkan 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen penanganan sampah.

"Intinya, pada 2025, kami menargetkan 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen penanganan sampah. Jadi tidak ada sampah yang bercecer di pinggir-pinggir jalan seperti yang kita hadapi saat ini. Sebesar 30 persen pengurangan sampah kita menurunkan penggunaan sampah yang terbuang. Lalu penanganannya pada 2025 seperti menjadi sumber energi bagi sampah yang masuk ke TPA," lanjutnya.

Selain itu, dalam acara ini dicanangkan Gerakan Indonesia Bersih, yang bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), yang jatuh pada hari ini (21/2). Ia menyampaikan program ini dicanangkan berdasarkan kebijakan Presiden Indonesia Joko Widodo untuk mengurangi sampah di Tanah Air.


"Saya kira kalau kita lihat kebijakan Bapak Presiden, yang kita butuhkan adalah Indonesia yang bersih karena kalau Indonesia bersih, akan sehat. Kalau kita hidup bersih, hidup sehat, maka kelihatan sebagai bangsa yang berbudaya dan tentu saja kalau lihat sekarang bernilai ekonomi karena ada circular economy di mana paradigma barunya adalah bank sampah sebagai sumber daya," ungkap Siti.

Dengan adanya circular economy, lanjut Siti, sampah dapat diolah menjadi berbagai bentuk dengan nilai ekonomi. Namun hal tersebut memerlukan kontribusi dari segala pihak, mulai pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, hingga pengelola usaha.

"Dari sampah ada yang namanya circular economy. Ada yang bisa jadi listrik, ada yang untuk aspal, macam-macam. Modal dasar ini kita angkat seluruhnya, diintegrasikan dengan baik, baik sektor maupun antara sektor dan pemda, termasuk dengan inisiatif masyarakatnya dan dunia usaha juga karena teknologinya juga berpengaruh," ujarnya.
(prf/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed