DetikNews
Kamis 21 Februari 2019, 14:13 WIB

Kode 'Uang Minyak' di Kasus Suap Hakim Merry Purba

Faiq Hidayat - detikNews
Kode Uang Minyak di Kasus Suap Hakim Merry Purba Sidang lanjutan dengan terdakwa Merry Purba di Pengadilan Tipikor, Kamis (21/2/2019) Foto: Faiq Hidayat-detikcom
Jakarta - Panitera pengganti PN medan, Oloan Sirait mengaku pernah dihubungi staf Tamin Sukardi bernama Sudarni. Saat itu, Sudarni tiba-tiba bertanya alamat hakim Sontan Merauke Sinaga yang menangani perkara pengusaha Tamin Sukardi.

Awalnya, Oloan mengaku berteman dengan panitera pengganti PN Medan Helpandi yang menangani perkara Tamin tersebut di PN Medan. Tamin saat itu terdakwa perkara pengalihan tanah negara/milik PTPN II di PN Medan.

"Kalau tidak salah Sabtu, saya ditanya di mana alamat Pak Sontan Sinaga. Saya bilang di Lubuk Pakam, 'enggak alamat detailnya' saya tidak tahu, cuma saya tahu di Pakam karena pernah tinggal di sana," kata Oloan saat bersaksi sidang terdakwa Merry Purba dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019).






Saat dihubungi Sudarni, dia mengatakan sempat bertanya maksud mencari alamat hakim Sontan. Namun Sudarni tidak menjelaskan detail maksud menanyakan alamat tersebut.

"Adalah katanya (Sudarni) gitu," ucap Oloan.

Selain itu, Oloan juga mengaku pernah Tamin Sukardi tiba-tiba menghubungi dirinya untuk mengajak bertemu di kantornya. Dalam pertemuan itu, Tamin bertanya alamat hakim Sonta kepada Oloan.

"Nanya alamat Pak Sonta Sinaga katanya, di Lubuk Pakam aku bilang, alamatnya istrinya katanya saya juga tidak tahu, dulu pernah di Pakam, pindah ke Medan tempat persis saya enggak tahu," jelas Oloan.

Tak berapa lama, Oloan menyebut Sudarni kembali menghubungi dirinya menjelang putusan Tamin Sukardi di PN Medan. Dalam komunikasi tersebut, Oloan mendengar adanya 'uang minyak' yang akan diberikan oleh Sudarni.

"Ya di jalan bising, ada dikasih uang minyak, ya aku bilang ada saja waktu itu supaya cepat putusnya," tutur Oloan.

"Berapa uang minyak?" tanya jaksa.

"Asal sebut sejuta saja supaya cepat," kata Oloan.

Oloan tidak menjelaskan maksud 'uang minyak' saat berkomunikasi dengan Sudarni. Ia pun membantah menerima 'uang minyak' dari Sudarni.

"Enggak, bener Pak. Ya benar enggak (tidak menerima uang)," kata dia.

Dalam perkara ini, Merry didakwa menerima SGD 150 ribu atau sekitar Rp 1,5 miliar dari seorang pengusaha bernama Tamin Sukardi. Uang itu diberikan Tamin melalui perantara anak buahnya bernama Hadi Setiawan kepada panitera pengganti Pengadilan Tipikor Medan bernama Helpandi.


Simak Juga 'Tangis Hakim Merry Tersangka Suap di Depan Media':

[Gambas:Video 20detik]



(fai/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed