Bhayangkari Gadungan di Bali Tipu Calon Akpol Ratusan Juta

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 20 Feb 2019 14:35 WIB
Foto: Bhayangkari Gadungan (2 dari kanan)/ (Dita-detikcom)
Foto: Bhayangkari Gadungan (2 dari kanan)/ (Dita-detikcom)
Denpasar - Niswatun Badriyah (25) wanita asal Sidoarjo ditangkap polisi karena menipu calon akpol di Bali. Menggunakan identitas palsu, Niswatun mengklaim sebagai istri polisi (Bhayangkari) dan bisa membantu meloloskan korban dengan biaya ratusan juta rupiah.

Mulanya Niswatun yang mengaku bernama Helen Natalia Fransisca tinggal di kos-kosan milik korban bernama I Ketut Widyantara Udayana (19) di kawasan Denpasar Selatan. Untuk menipu korbannya, Niswatun mengaku sebagai Bhayangkari dan sengaja memasang fotonya bersama seorang pria berpakaian polisi di dalam kamarnya.



"Tersangka mengetahui kalau korban sempat mendaftar polisi namun tidak lulus. Sehingga orang tua dari korban juga sempat meminta tolong membantu anaknya agar lolos menjadi polisi dan tersangka menyanggupi. Beberapa minggu setelah terlapor menyangupi akan membantu korban meloloskan korban menjadi Polisi yaitu sekitar bulan November 2017 terlapor mengatakan, bahwa 'ada paket seharga Rp 150 juta untuk langsung meluluskan korban menjadi polisi dan tidak ada biaya apa-apa lagi'," ujar Iptu Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan Hadimastika Karsito Putro kepada wartawan, Rabu (20/2/2019).

Hadimas menyebut November 2017 lalu orang tua korban lalu menyanggupi untuk membayar uang tersebut secara bertahap. Setelah uang itu lunas, Niswatun kembali meminta sejumlah uang dalam kurun waktu Januari hingga Februari 2018.

Untuk meyakinkan korban, Niswatun bahkan meminta korban yang mendaftar sebagai Bintara Polri 2018 itu untuk mengirim sejumlah foto kopi surat-surat penting seperti form pendaftaran hingga foto korban. Beberapa hari kemudian Niswatun memberikan kuitansi penyerahan uang kepada juri yang namanya sesuai dengan tabel nama yang sudah diberikan oleh korban.

Singkat cerita, korban dinyatakan tidak lulus psikologi dan tersangka menyanggupi untuk membantu korban asal memberikan sejumlah uang yang disebut untuk menyogok salah seorang juri. Bahkan dalam rentang waktu April hingga September, Niswatun kembali meminta sejumlah uang.

"Sehingga korban sudah total memberikan tersangka sejumlah Rp 639 juta," ujar Hadimas.

Hadimas menjelaskan korban yakin bisa lolos masuk Bintara karena percaya dengan Niswatun. Selain mengaku sebagai Bhayangkari, Niswatun juga mengaku memiliki kenalan anggota di Mabes Polri.

"Tersangka ini mengaku seorang bhayangkari dan memiliki suami seorang polisi yang sedang bertugas di BNN dengan cara memajang foto tersangka menggunakan pakaian bhayangkari dan foto seorang anggota Polisi berbaju dinas berukuran 10 R. Tersangka mengaku memiliki rekanan di Mabes Polri seorang Jendral, yang mana nama Jendral tersebut fiktif," urainya.

Dia menambahkan Niswatun akhirnya dibekuk di rumahnya di Dusun Ginonjo, Desa Basuki, Sidoarjo, Jawa Timur. Uang hasil penipuan tersebut digunakannya untuk foya-foya.

"Semua apa yang dikatakan tersangka oleh korban merupakan fiktif dan korban tidak pernah menguruskan atau membantu korban menjadi seorang bintara Polisi. Sehingga uang yang diterima tersangka dari korban digunakan foya-foya dan memenuhi kehidupannya sehari-hari, sebab menjadi anggota Polri tidak dipungut biaya," tegas Hadimas.

Atas perbuatannya, Niswatun dijerat dengan pasal 378 KUHP dan atau pasal 372 KUHP tindak pidana penipuan dan atau penggelapan. (ams/rvk)