Cerita Ahmad Sueb, 'Paspampres Dadakan' Jokowi

Andhika Prasetia, Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 19 Feb 2019 20:00 WIB
Presiden Jokowi (Andhika Prasetya/detikcom)
Semarang - Malam Minggu pada awal Februari menjadi malam yang tidak disangka-sangka Ahmad Sueb. Sebab, Ketua Rukun Warga 13 di Kelurahan Tanjung Mas, Semarang, itu tiba-tiba bertugas menjadi 'Paspampres' dadakan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Berawal dari pengakuan Jokowi dari atas panggung debat pada 17 Februari 2019, detikcom menemui Sueb. Dia menceritakan kedatangan orang nomor satu di republik ini pada Sabtu, 2 Februari, menjelang tengah malam. Sueb menyebut saat itu Jokowi seorang diri mendatangi Kampung Tambak Lorok.

Di sebuah warung kopi, Jokowi mengorek cerita para nelayan. Jokowi menghampiri para nelayan di warung kopi yang berada di dermaga dan mulai berbincang mengenai kondisi kampung, perekonomian, hingga proses pembangunan Kampung Bahari di sana, yang dimulai sejak 2015.




"Beliau lihat-lihat kondisi pekerjaan proyek yang dulu beliau datangi pada 2014 dan tanya-tanya warga terkait ekonominya gimana, sesudah ada proyek ini gimana," tutur Sueb kepada wartawan, Senin (18/2).

Awalnya Sueb melihat sosok pria berkemeja putih duduk di tambatan tali perahu sekitar pukul 23.00 WIB. Pria itu sedang berbincang dengan tiga orang nelayan. Namun Sueb dan nelayan yang sedang berada di warung kopi mengira sosok itu adalah pekerja proyek Kampung Bahari.

"La malam-malam, saya kira pekerja proyek, saat menghampiri, baru tahu itu Pak Jokowi," lanjutnya.

Jokowi menghampiri para nelayan di warung kopi dan mulai berbincang mengenai kondisi kampung, perekonomian, hingga proses pembangunan Kampung Bahari di sana, yang dimulai sejak 2015.

Cerita Ahmad Sueb, 'Paspampres Dadakan' JokowiJokowi saat berada di Tambak Lorok, Sabtu (2/2). (Foto: dok. Ahmad Sueb)

Warga, lanjut Sueb, menjawab Jokowi terkait baik-buruknya pembangunan talut di sana. Warga juga berharap agar ada penahan gelombang agar ketika angin barat datang gelombang tidak mengempas kapal-kapal di dermaga.

"Ada yang menyampaikan soal pemecah gelombang karena kalau pas 'baratan' (angin barat), gelombang masuk sungai jadi kapal goyangnya keras, sampai bertubrukan," ujarnya.

Ada juga warga yang mengatakan takut menjemur ikan teri di jalan sekat proyek, tapi Jokowi justru mempersilakan, termasuk menjemur di dermaga pun tidak apa-apa. "Ada yang usul masalah penjemuran ikan asin, Bapak (Jokowi) bilang kenapa kok susah jemur ikan, kan di sini dermaga bisa. (Warga menjawab) katanya tidak boleh. Bapak bilang yang tidak bolehkan siapa, tidak apa-apa," kata Sueb.




Sueb juga menceritakan aksinya mengawal Jokowi saat berkeliling di lokasi dermaga. Dia menjelma menjadi 'Paspampres' dadakan karena ada banyak warga yang ingin bersalaman dan berfoto dengan Jokowi.

Menurut Sueb, siapa pun diterima Jokowi, bahkan ibu-ibu yang habis memegang ikan. "Ya siapa pun diterima yang salaman, saya di sebelahnya, saya tahu betul," ujarnya.

Tentang pengakuan Sueb bila Jokowi tanpa pengawalan itu direspons Paspampres. "Pada intinya, Paspampres melaksanakan pengamanan secara fisik, langsung, jarak dekat setiap saat dan di mana pun VVIP berada," ujar Asintel Komandan Paspampres Kolonel Kav Urip Prihatman saat dimintai konfirmasi, Selasa (19/2/2019).

"Dalam pelaksanaannya, pengamanan digelar secara berlapis dengan melibatkan berbagai unsur pengamanan," imbuh Urip. (dhn/haf)