DetikNews
Selasa 19 Februari 2019, 16:38 WIB

Akan Datangi Muslim Uighur, MUI Silaturahmi ke China Islamic Association

Jabbar Ramdhani - detikNews
Akan Datangi Muslim Uighur, MUI Silaturahmi ke China Islamic Association MUI bersilaturahmi ke China Islamic Association (Jabbar Ramdhani/detikcom)
Beijing - Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mendatangi muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China. Sebelum pergi ke Xinjiang, rombongan bersilaturahmi ke China Islamic Association.

Rombongan MUI dipimpin Ketua Bidang Luar Negeri MUI Muhidin Junaidi. Rombongan ada sebanyak 15 orang yang juga termasuk perwakilan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah.


Saat tiba, rombongan disambut Ketua China Islamic Association Syekh Hasan Yang Faming bersama jajaran. Kedua pihak menyatakan pertemuan ini sebagai bagian dari silaturahmi untuk mempererat persaudaraan antarmuslim.

"Kami ingin sampaikan salam hormat dari bangsa kami di Indonesia untuk saudara kami di Tiongkok. Mudah-mudahan pimpinan CIA tak bosan terima kedatangan mereka. Kami yakin makin sering kunjungan muhibah ini makin baik dalam menjalin hubungan ukhuwah Islamiyah," kata Muhidin di awal pertemuan, Selasa (19/2/2019).

Muhidin mengatakan hubungan muslim Indonesia-China sudah berlangsung sejak lama. Dan hubungan berlangsung dengan baik.

"Secara historis hubungan kedua bangsa ini sudah cukup baik. Kunjungan Marsekal Ceng Ho jadi bukti bahwa muslim Tiongkok sudah datang ke Indonesia sebelum Indonesia merdeka," tuturnya.

Dia melanjutkan, Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia sehingga bertanggung jawab secara moral terhadap saudara muslim lainnya. Muhidin mengatakan MUI akan Islam yang toleran, bersahabat, dan cinta kemajuan.

Akan Datangi Muslim Uighur, MUI Silaturahmi ke China Islamic AssosiacionMUI bersilaturahmi ke China Islamic Association. (Jabbar Ramdhani/detikcom)


Muhidin mengatakan undangan dari pihak China bertujuan melihat muslim Uighur jadi kesempatan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat. Pasalnya, isu soal diskriminasi terhadap muslim Uighur sudah ramai dibahas di media massa ataupun media sosial.

"Karena ada beredar informasi di media maya tentang kondisi umat Islam di Uighur. Kami perlu dapatkan informasi seimbang. Dan kami tidak sepenuhnya percaya dengan pemberitaan tersebut, kami percaya masih ada ruang untuk dapatkan info lebih akurat," ucap dia.

"Oleh karena itu, kami datang berkunjung ke CIA lebih dahulu agar kami tak salah langkah ke depan," sambung Muhidin.


Sementara itu, Hasan mengatakan kondisi kebebasan beragama di China sudah lebih baik sejak pemerintah memberlakukan kebijakan birokrasi dan informasi.

"Dan tahun ini, tepat tahun 40 Tiongkok lakukan kebijakan birokrasi. Sama dengan rakyat Tiongkok lain, dan kehidupan di Tiongkok sudah lebih baik. Indeks kebahagiaan Tiongkok juga meningkat. Dan lebih banyak yang bisa beribadah," ucap Hasan.

"Empat tahun lalu orang yang bisa beribadah lebih dari 12 ribu orang. Dan sekarang bisa dikatakan bersembahyang di Tiongkok bisa secara aman, teratur, beradab. Di bawah dukungan pemerintah, sekarang kami bisa koordinasikan pemberangkatan muslim ke Mekah dari enam kota," imbuhnya.
(jbr/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed