"Paling tidak dengan semalam ada debat kandidat kedua, jadi paling tidak berpengaruh terhadap orang-orang yang dulunya apatis, melihat penampilan Pak Jokowi misalnya tertarik juga untuk memilih, bisa jadi seperti itu," kata Anggota TKN Achmad Baidowi di diskusi berjudul Potensi Golput di Pemilu 2019, Komplek DPR, Jakarta, Senin (18/2/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau yang mendasarkan ke Pak Prabowo, ya mungkin golputnya makin banyak. Tapi kalau melihat ke Pak Jokowi, golputnya tertarik untuk melabuhkan pilihannya karena apa yang disampaikan Pak Jokowi konkret baik grand desain isu kebijakan nasional, maupun teknis teknis di lapangannya beliau sampaikan semua termasuk dengan data per datanya," ujarnya.
Ia menyebut untuk menaikan angka partisipasi publik memilih ada tiga cara. Pertama penyelenggara pemilu melakukan sosialisasi secara maksimal.
Kedua, peserta pemilu tidak berdiam diri, misalnya partai politik dan pasangan presiden harus terus berkampanye agar pemilih mau datang ke TPS. Ketiga, peran media dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan informasi ke publik pentingnya Pemilu 17 April.
"Kalau yang tiga elemen ini terus bergerak insyaallah golput ini terus berkurang. Kalau kita sudah gunakan sedemikian rupa, tapi ternyata golput tak berkurang-kurang ya itu lah budaya politik di Indonesia dan itu sah-sah aja mau golput berapa pun tak mengurangi konstitusionalitas pemilu," ujarnya.
Saksikan juga video 'BPN: Kredibilitas Jokowi Makin Hari Makin Menurun':
(yld/idn)











































