Wapres: Bali Sulit Mendapatkan Otonomi Khusus
Sabtu, 17 Sep 2005 21:41 WIB
Kuta - Keinginan Bali untuk mendapatkan otonomi khusus akan susah dipenuhi oleh pemerintah. Salah satu alasannya, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, Bali justru akan rugi jika mendapat status otonomi khusus."Kalau itu terjadi di sini maka Bali justru akan dirugikan dari sisi itu. Karena Bali terkenal karena harmoninya. Begitu menjadi suatu terlalu eksplisit tertutup maka akan merugikan keharmonisan dan keterbukaan Bali," katanya.Namun Kalla, dalam jumpa pers di hotel Intercontinental Jalan Uluwatu, Kuta, Bali, Jumat (16/09/2005), mengatakan akan tetap mendengar aspirasi masyarakat Bali. Kalla menjelaskan otonomi khusus memiliki esensi dua hal, yaitu dari segi kebijakan dan dari segi ekonomi. Kalau dari segi kebijakan, seperti Aceh, menginginkan antara lain negara Islam. Dari sisi ekonomi, otonomi memberikan manfaat akibat adanya sumber daya alam. "Yang mendapat otonomi khusus cuma dua, Aceh dan Papua. Kenapa Aceh, Aceh mempunyai sumber daya alam tapi 30 tahun tidak dinikmati masyarakat. Jadi diberikanlah suatu keleluasaan untuk merehabilitasi kemampuan itu. Hal yang sama juga terjadi di Papua," jelasnya.Sementara pendapatan Bali karena investasi, seperti hotel tepat turis tentu karena keindahan. Keindahan susah dinilai dari bentuk dan uangnya. Berbeda dengan minyak, batu bara yang dapat dilihat nilainya."Tapi dari segi uang hotel ini yang mendapat keuntungan bukan pemerintah adalah investor. Ini berbeda kalau dengan gas, minyak pemerintah langsung dapat 85 persen dari itu. Berdasarkan pasal 33 UUD RI 1945 semua itu dikuasai negara sehingga langsung milik negara 85 persen," katanya.Lalu ditambahkan Kalla, "Sehingga yang mau diberikan otonomi khusus itu dari mana asalnya sulit sekali. Jadi pemerintah yang mau dikasi apa. Di situlah letaknya permasalahannya."
(gtp/)











































