DetikNews
Minggu 17 Februari 2019, 09:27 WIB

Lika-liku Bocah Putra, Ditinggal Mati Orang Tua, Mengamen hingga Jualan Cilok

Zakia Liland - detikNews
Lika-liku Bocah Putra, Ditinggal Mati Orang Tua, Mengamen hingga Jualan Cilok Foto: Muhammad Saputra bocah yang viral karena jualan cilok (Zakia Liland-detikcom)
Jakarta - Muhammad Saputra atau Putra harus merasakan kerasnya hidup di usianya yang baru menginjak 12 tahun. Bocah kelas 3 Sekolah Dasar itu harus bekerja banting tulang untuk memenuhi keperluan sehari-hari dirinya dan 3 saudara kandungnya.

Putra terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Mendiang ayahnya dulu hanya pekerja serabutan yang memulung rongsokan. Sedangkan almarhumah ibunya menjadi pengemis.


Kesedihan Bertubi-tubi

Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak beberapa bulan lalu. Ibunya meninggal 10 bulan lalu setelah melahirkan si bungsu Arsyad Al-Fatih Setiawan. Kesedihan bertubi-tubi dialami Putra dan saudara-saudaranya. 40 Hari setelah ibunya meninggal, ayahanda juga tutup usia karena sakit.

Kini, tinggal Putra bersama kakaknya Siti Zuleha atau Leha (17) dan adiknya Renaldi Setiawan(7) serta si bontot Arsyad. Mereka berempat tinggal di rumah semi permanen berukuran sekitar 3x7 meter di kawasan Jurangmangu Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Siti sendiri sudah menikah dan suaminya juga tinggal di situ.

detikcom menemui Putra dan ketiga saudaranya di rumahnya pada Jumat 15 Februari 2019. Di rumah itu, sang kakak sedang memberi susu adik bungsunya. Tidak lama, si bungsu pun terlelap tidur di atas kasur busa yang terletak di ruang tamu.

"Bapak dulu mulung," Leha sambil berbaring di atas kasur setelah menidurkan adiknya.

Leha kelelahan sore itu. Dia kedatangan tamu dari sejumlah aktivis, pejabat Pemkot Tangsel hingga sejumlah wartawan. Kehidupan Putra dan ketiga saudaranya menjadi sorotan publik setelah seorang netizen memposting foto Putra yang berjualan cilok untuk mencukupi kebutuhan keluarga.


Saat itu Putra pun tidak berjualan karena sang kakak tidak membuat cilok. Ya, Leha lah yang membuat cilok sementara Putra mendagangkannya. Sepeda yang biasa dipakai Putra untuk jualan pun 'diistirahatkan' di depan rumah.

"Kalau ibu dulu mengemis," katanya.

Jualan Cilok

Setelah kedua orang tua meninggal, Leha dan ketiga saudaranya sempat mendapat bantuan dari orang tua asuh. Setiap bulan, Leha dan adik-adiknya dikirimi sembako, kadang sejumlah uang. Akan tetapi, sejak dua bulan belakangan orang dermawan itu tak lagi menderma. Leha dan Putra pun memutuskan untuk berjualan cilok.

Meski suami Leha bekerja sebagai sopir angkot, namun penghasilannya tak bisa mencukupi keperluan sehari-hari. Dengan modal Rp 150 ribu, Leha membuat cilok. Karena dia harus menjaga adik-adiknya yang masih kecil, maka urusan berjualan diserahkan kepada Putra. Beruntung Putra tidak merasa terbebani karena harus menjajakan cilok keliling di sekitar rumahnya.

Hampir setiap hari Leha terjaga pada pukul 03.00 WIB karena si bungsu sering terbangun. Leha pun terjaga hingga subuh dan mulai membuat adonan pada pukul 06.00 WIB.

"Sehari 250 tusuk cilok," ucap Leha.

Cilok dijual Rp 2.000 per tusuk. Terkadang jualannya itu tidak habis terjual. Leha pun membagikan sisa cilok itu kepada tetangganya.

"Uang hasil jualan ya diputerin lagi, kadang dapatnya Rp 100 ribu," imbuhnya.

Putra mulai berjualan pada pukul 10.00 WIB, sebelum masuk sekolah. Putra masuk sekolah siang pukul 13.00 WIB, sehingga dia masih bisa berjualan keliling sekitar rumah pada pagi harinya. Putra juga kadang membawa dagangannya ke sekolah.

"Iya sambil sekolah jualannya, dibawa (ke sekolah)," kata Putra.


Kalau jualannya belum habis, Putra tidak langsung pulang ke rumah sepulang sekolah. Dengan sepeda kayuhnya, dia menjajakan cilok hingga ke Bintaro Plaza dan Mal BXC. Putra pulang ke rumahnya terkadang sampai larut.

"Jam 01.00 malam pulangnya," kata Putra.

Pulang berjualan, Putra sangat kelelahan. Dia bahkan tidak sempat belajar karena kelelahan. Putra kemudian bangun pada pukul 07.00 WIB atau pukul 08.00 WIB. Pukul 10.00 WIB, Putra baru memulai berjualan.

"Bangun bantuin kakak dulu nyuapin adik," kata Putra.

Pernah Mengamen

Putra dan adik-adiknya sudah terbiasa hidup susah. Leha dan Putra bahkan pernah ikut mengamen untuk mencari sesuap nasi.

"Ngamen pernah sekali," kata Putra.

Putra punya pengalaman buruk saat mengamen. Dia ditangkap Satpol PP karena mengamen. Untungnya, Putra tidak sampai dibawa ke Panti Sosial.

"Nggak dibawa. Saya bilang aja 'Bapak cari makan kan? Saya juga cari makan, Pak'," kata Putra. Hingga akhirnya Satpol PP melepasnya.

Tetapi setelah itu Putra berhenti mengamen. Dia memutuskan untuk menjual cilok daripada mengamen, meski cukup melelahkan.

"Capek sih, tapi nggak boleh mengeluh," tuturnya.



Simak video Putra, Bocah Yatim Piatu yang Jualan Cilok untuk Keluarga:

[Gambas:Video 20detik]




(mei/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed