DetikNews
Minggu 17 Februari 2019, 06:18 WIB

Saling Serang Kubu Jokowi dan Prabowo Soal Survei Indomatrik

Tim Detikcom - detikNews
Saling Serang Kubu Jokowi dan Prabowo Soal Survei Indomatrik Foto: Prabowo vs Jokowi. (ilustrator Zaky Alfarabi/detikcom).
Jakarta - Kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saling serang soal hasil survei. Ini menyusul hasil survei lembaga Indomatrik yang merilis hasil elektabilitas kedua pasangan calon itu terpaut tipis.

Survei Indomatrik menyebut elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 47,97% dan Prabowo-Sandiaga 44,04%. Survei dilakukan pada 21-26 Januari 2019, dengan jumlah sampel 1.800 responden dan margin of error +/- 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden yang terpilih diwawancarai lewat wawancara tatap muka.

Hasil survei Indomatrik menjadi sorotan karena menampilkan selisih elektabilitas antara Jokowi-Ma'ruf dengan Prabowo-Sandiaga Uno yang sangat tipis jelang pelaksanaan Pilpres 2019. Elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres terpaut hanya 3,93%, berbeda dengan lembaga survei lain.

"Hasil survei dari Indomatrik ini secara pribadi saya sangat tidak mempercayai sebagai suatu kajian yang objektif dan ilmiah. Yang pertama, jujur baru hari ini saya mengenal dan membaca ada lembaga Indomatrik," ujar Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, Jumat (15/2/2019).

Ia menduga Indomatrik bekerja berdasarkan suruhan dari kubu yang berseberangan dengan pasangan nomor urut 01. Politikus PKB ini menilai hal itu bertujuan menciptakan framing di masyarakat.


"Saya menduga kuat bahwa Indomatrik ini adalah bekerja berdasarkan drive atau disuruh atau ditugaskan atau diminta oleh kelompok politik yang berbeda dengan 01. Tujuannya adalah menciptakan framing dan opini di publik bahwa Pak Prabowo itu layak didukung karena semakin bagus trennya. Padahal sesungguhnya, faktanya, saya kira tidak demikian. Kami punya data sendiri tentang angka-angka yang soal pilpres ini," ucap Karding.

Sementara itu menurut juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Indomatrik merupakan lembaga survei yang memiliki rekam jejak bagus. Politikus Gerindra ini menyebut, Indomatrik merilis survei Anies-Sandiaga unggul dibanding Basuki T Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat di Pilgub DKI 2017. Habiburokhman mengatakan, survei Indomatrik terbukti akurat.

"Setahu saya Indomatrik bukan lembaga survei kemarin sore, mereka punya track record cukup bagus. Saat itu Indomatrix mempresentasikan data jika Anies -Sandi unggul, sementara Charta Politica sebaliknya. Padahal survei Charta dilakukan lebih dekat dengan masa pencoblosan 19 April 2017 yaitu pada 7-12 April 2017 dibandingkan dengan survey Indomatrix yang dilaksanakan pada 1-8 April 2017. Faktanya saat pencoblosan Anies-Sadi lebih unggul. Survei Indomatrik terbukti akurat," beber Habiburokhman, Sabtu (16/2/2019).

Lembaga survei Indomatrik pun menjadi sorotan karena tidak terdaftar di Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi). Direktur Riset Indromatik Husin Yazid juga diketahui sebagai eks Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), lembaga survei yang sempat bermasalah pada Pilpres 2014.


Puskaptis bermasalah pada 2014 karena menjadi satu dari empat lembaga survei yang dituding melakukan manipulasi dan pembohongan publik karena merilis data quick count yang memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa, padahal sejumlah lembaga survei lainnya merilis Jokowi-Jusuf Kalla yang menang. Hasil survei Puskaptis melenceng jauh dari real count KPU.

Puskaptis lalu dikeluarkan dari Persepi karena masalah tersebut. Bahkan Puskaptis juga sempat dilaporkan ke polisi atas tuduhan manipulasi dan pembohongan publik.

"Husin Yazid dengan Puskaptis di 2014, dia kan tidak mau diaudit, diundang (untuk presentasi proses riset) juga tidak mau datang. Terus terbukti melakukan pelanggaran, kami keluarkan. (Indomatrik) tidak, tidak terdaftar. Itu yang punyanya si Yazid yang dikeluarkan dari Persepi tahun 2014," ungkap anggota Dewan Etik Persepi, Hamdi Muluk.

Timses Jokowi-Ma'ruf menilai Indomatrik dan Puskaptis sama-sama lembaga yang bermasalah. Menurut jubir TKN, Ace Hasan, lembaga survei tersebut tidak memiliki legitimasi lagi untuk menyampaikan surveinya dan dituding memiliki motif bisnis.

"Antara Puskaptis dan Indomatrik sama saja. Kedua-duanya memiliki rekam jejak bermasalah. lembaga survei itu sudah tidak memiliki legitimasi lagi untuk menyampaikan surveinya. Pasti ada motifnya. Saya khawatir Ini menjadi bagian dari penggiringan opini untuk pasangan calon tertentu. Publik perlu kritis terhadap hasil survei dari lembaga survei yang partisan," jelas Ace.


BPN Prabowo-Sandiaga pun membantah menyewa Indomatrik untuk menjadi framing agar menguntungkan Prabowo-Sandiaga. Ia juga menyebut soal Indomatrik yang prediksinya tepat di Pilgub DKI 2017. Andre lalu menuding survei-survei yang selama ini merilis Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandiaga sebagai pendukung pasangan petahana itu.

"Ternyata mereka semua juga meleset. Sedangkan Indomatrik waktu Pilkada 2017 prediksinya tepat bahwa Anies dan Sandi akan menang, termasuk hasil quick count nya di Pilkada DKI Indomatrik juga tepat. Ini menunjukkan bahwa lembaga-lembaga survei pendukung Jokowi juga pernah salah," sebut Andre.

Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristiyanto menepis tudingan tersebut. Ia menegaskan sejumlah lembaga yang hasil surveinya mengunggulkan Jokowi merupakan lembaga dengan tingkat kepercayaan tinggi.

"Survei-survei yang selama ini mengunggulkan Pak Jokowi adalah lembaga survei yang kredibel," kata Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristiyanto, di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/2).

Saling Serang Kubu Jokowi dan Prabowo Soal Survei IndomatrikFoto: Husin Yazid.

Hasto kemudian menyinggung Indomatrik yang tak masuk dalam Persepi. Dia menyatakan Persepi adalah asosiasi yang terus menjaga survei dari aspek metodologi dan kredibilitasnya.

"Ada asosiasi dari lembaga-lembaga survei yang terus menjaga dari aspek metodologi dan kredibilitasnya, tidak ada lagi lembaga survei abal-abal yang hanya untuk mendongkrak efek elektoral," tutur Sekjen PDIP itu.

Soal tudingan Indomatrik partisan dibantah oleh Husin Yazid. Ia menyatakan lembaga survei yang dipimpinnya adalah independen. Yazid justru menyerang lembaga-lembaga survei kebanyakan dengan balik mempertanyakan soal kredibilitasnya.

"Tidak ada bukti (berpihak kepada Prabowo-Sandiaga). Saya benar-benar independen. Saya beri pembelajaran kepada masyarakat ini fenomena lima tahunan. Saya mempunyai rasa bertanggung jawab. Rasa panggilan saya tentang ilmu metodologi survei. Dan masalah duit, itu duit kami sendiri. Kami siap, kami jelaskan semua metodologi," ujar Yazid.


"Dan 7-9 lembaga survei pro-Ahok, sekarang disinyalir ke Jokowi. Hamdi Muluk yang jadi dewan etik juga disinyalir ke 01. Saya juga pertanyakan Prof Hamdi Muluk, kok dari Ahoker, itu keberpihakan? Apakah itu benar sebagai dewan etik?" sambung dia.

Yazid juga membantah Indomatrik berafiliasi dengan Puskaptis. Ia menyebut Indomatrik merupakan lembaga survei yang berdiri sendiri.

"Nggak (ganti nama) lah. Kan Puskaptis ada berdiri sendiri, Indomatrik berdiri sendiri. Kan 29 Januari kemarin (Puskaptis) mempublikasikan hasil surveinya," tutup Yazid.


Simak juga video 'Sandi: Masyarakat Ingin Pilpres Tak Saling Serang dan Menjatuhkan':

[Gambas:Video 20detik]


Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed