DetikNews
Sabtu 16 Februari 2019, 18:13 WIB

Freeport Jadi 'Modal' Jokowi, Janji Turunkan Harga BBM 'Peluru' Prabowo

Elza Astari Retaduari - detikNews
Freeport Jadi Modal Jokowi, Janji Turunkan Harga BBM Peluru Prabowo Foto: Ilustrasi Jokowi vs Prabowo. (Dok. Istimewa).
FOKUS BERITA: Debat Cawapres 2019
Jakarta - Tema debat kedua Pilpres 2019 akan membahas tema soal energi dan sumber daya alam. Bila capres petahana Joko Widodo akan menjadikan 'pencaplokan' saham mayoritas Freeport sebagai modal debat, Prabowo Subianto bisa mengeksplor janjinya bersama Sandiaga Uno untuk menurunkan harga BBM bila memimpin Indonesia.

"Penguasaan blok-blok besar Mahakam, Freeport, Rokan, dan beberapa blok lain, itu adalah sumber energi luar biasa bagi kita dan sekarang bisa kita atur oleh anak bangsa sendiri. Kita menuju kepada kemandirian energi," ungkap Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding saat berbicara soal isu yang akan dibawakan Jokowi dalam debat kedua, Selasa (12/2/2019).

Tak hanya itu, Jokowi juga punya modal andalan lewat program sambungan listrik gratis untuk rumah tangga miskin dan rentan miskin. Pemerintahan Jokowi, ditegaskan Karding, berkomitmen agar seluruh masyarakat Indonesia bisa mengakses listrik.

"Akan didorong elektrifikasi mencapai 99,9% dan pemerintah akan menyiapkan anggaran untuk elektrifikasi gratis di Indonesia pada 2018-2019 ini. Itu komitmen pemerintah agar seluruh warga Indonesia bisa mengakses listrik, terutama yang belum bisa mengakses listrik," kata politikus PKB itu.

Beberapa pencapaian pemerintah lain juga akan menjadi modal bagi Jokowi di debat. Sebab debat juga akan mengambil tema soal infrastruktur serta lingkungan hidup dan kehutanan.

"Saya kira capaian jalan desa, jembatan, bendungan, irigasi, jalan kabupaten dan nasional, juga luar biasa. Tol juga hampir 1.000-an km, puluhan bandara baru, begitu pula juga airport besar maupun kecil dibangun oleh Pak Jokowi," sebut Karding.


Sementara itu soal energi dan sumber daya alam (SDA), Prabowo-Sandiaga berkali-kali menyampaikan janjinya akan menurunkan harga BBM dan tarif lisrik bila memenangkan Pilpres 2019. Hal tersebut pernah disampaikan Sandiaga di depan pendukungnya saat berkampanye di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (22/1).

"Harga lagi murah atau mahal? Listrik turun atau naik? BBM turun apa naik?" tanya Sandiaga kepada para pendukungnya.

Mendengar jawaban dari para pendukungnya, ia pun berjanji jika dia dan pasangannya Prabowo menang akan menurunkan harga BBM dan tarif listrik. "Insyaallah di bawah Prabowo-Sandi, 2019 harga turun, terjangkau. Itu saja yang kita janjikan," kata Sandiaga.

Hal yang sama juga pernah disampaikan Sandiaga saat berbicara soal strategi mewujudkan kedaulatan energi di Indonesia. Cawapres nomor urut 02 ini awalnya berbicara soal sumber energi terbarukan.

"Kami punya strategi dorongan besar untuk memastikan bahwa sektor energi bukan menjadi sektor yang membebani kita, tapi merupakan potensi yang luar biasa. Salah satunya tadi kita bicara upaya untuk lebih banyak mendorong energi terbarukan," kata Sandiaga, Sabtu (2/2).

Sandi mengatakan, jika dirinya menjadi wakil presiden, pihaknya akan berfokus mengembangkan sumber energi nabati serta sumber energi terbarukan lainnya yang banyak dijumpai di Indonesia.

Tak hanya mengembangkan sumber energi terbarukan, menurutnya, Prabowo-Sandi juga ingin memastikan masyarakat bisa mengakses bahan bakar minyak (BBM) dan menghadirkan tarif listrik murah.

"Kita ingin memastikan bahwa harga bahan bakar tidak akan melukai masyarakat yang berada di bagian paling bawah piramida. Kami akan memastikan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan jika ada kenaikan biaya," jelas dia.


Kubu Prabowo-Sandiaga juga kerap mengangkat isu soal defisit ekspor dan impor migas. Bila Prabowo menjadi presiden, eks Danjen Kopassus itu disebut akan mengupayakan sumber energi terbarukan. Untuk mengurangi ketergantungan impor migas, Prabowo-Sandiaga akan memanfaatkan energi alternatif yaitu biofuel yang bersumber dari tanaman.

"Yang dilakukan Prabowo nanti adalah Indonesia jadi (produsen) biofuel terbesar di dunia," kata Anggota Tim Ekonomi, Penelitian dan Pengembangan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Harryadin Mahardika, Jumat (8/2).

Tim Prabowo-Sandiaga menilai pemerintah Jokowi memang sudah melakukan cara tersebut, namun dianggap kurang optimal. Harryadin mengatakan, Indonesia pasti bisa menjadi produsen biofuel terbesar di dunia karena memiliki SDA yang mendukung.

"Modalnya, kita punya hutan lahan 10 juta hektar yang sudah tidak produktif. Artinya pemiliknya sudah tidak pakai. Nah lahan lahan ini kita coba pakai lagi nanti," tuturnya.

Nantinya di kawasan lahan hutan tersebut bisa dibangun pabrik. Pabrik ini akan mengolah tanaman menjadi biofuel. Pihak Prabowo-Sandiaga tidak akan menggunakan kelapa sawit yang merusak tanah.

"Dari 10 juta hektar itu, target 2 juta hektar jadi Bio Etanol Estate. Ini jadi tambahan energi nasional. Bio Etanol Estate ini tidak gunakan kelapa sawit karena merusak tanah. Jadi pakai 7 tanaman yang bakal dipakai, aren, singkong, lamtoro untuk reboisasinya. Kira kira ini adalah cara yang sedang digodok dan diwacanakan sehingga kita punya jalan keluar supaya kita bisa kurangi ketergantungan energi," papar Harryadin.

Prabowo sendiri pernah berbicara soal keprihatinannya mengenai sumber air di dunia. Ia mengatakan, Indonesia harus menjaga sumberdaya airnya bila ingin berdaulat di masa depan. Ia menyebut, perang masa depan akan memperebutkan sumber daya air.


"PBB sudah meramalkan, dunia akan krisis air. Dan negara besar meramalkan, perang nanti akan banyak memperebutkan sumber air. Tidak mungkin kita bisa menghasilkan pangan tanpa air," ungkap Prabowo dalam pidatonya di Semarang, Jumat (16/2).

Masalah air disebut akan menjadi salah satu fokus yang akan dibahas Prabowo dalam debat. Prabowo-Sandiaga mengaku berfokus pada tiga hal yang disingkat FEW yakni food (pangan), energy, dan water (air).

Kubu Prabowo-Sandiaga pernah mengungkit soal jalan tol yang hanya dibangga-banggakan oleh Jokowi. Padahal berdasarkan Perpres Nomor 75 Tahun 2014 tentang Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas, ada beberapa sub-bidang infrastruktur di dalamnya yakni meliputi transportasi, jalan, pengelolaan air minum dan air bersih, bidang persampahan, energi, serta telekomunikasi.

"Infrastruktur tidak hanya jalan tol. Sementara yang selalu dibanggakan adalah jalan tol. Pertanyaan saya, kita krisis air bersih, bagaimana infrastruktur terhadap air bersih? Hampir 50 persen PDAM kita merugi. Artinya kan apa, pemerintah tidak mampu untuk me-recovery," urai juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Suhendra Ratu Prawiranegara, Rabu (6/2).

Suhendra mengatakan pemerintahan Prabowo-Sandi jika terpilih nanti tidak hanya akan fokus pada pembangunan jalan tol, tetapi juga infrastruktur publik lain. "Ya, infrastruktur publik yang katakanlah menyentuh langsung tentang hajat hidup, misalnya tadi, tentang air. Air bersih kita krisis, kita akan fokus ke sana. Kemudian yang kedua tentang persampahan, itu kan sudah menjadi persoalan yang rumit juga. Bagaimana infrastruktur tentang persampahan? Masih sangat minim," tambahnya.

Simak Juga 'Ssst... Jokowi Punya Kejutan di Debat Kedua Pilpres 2019':

[Gambas:Video 20detik]




Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/fdn)
FOKUS BERITA: Debat Cawapres 2019
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed