DetikNews
Sabtu 16 Februari 2019, 01:28 WIB

KJRI Jeddah Perjuangkan Uang Rp 740 Juta Hak TKI Korban Pembunuhan

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
KJRI Jeddah Perjuangkan Uang Rp 740 Juta Hak TKI Korban Pembunuhan Safaat Ghofur (Foto: Istimewa)
Jakarta - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah berhasil memperjuangkan uang diyat seorang pekerja migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja Indonesia (TKI) berinisial SMW yang menjadi korban pembunuhan di Abha, Arab Saudi. Kasus pembunuhan tersebut terjadi pada 2010 lalu.

KJRI mengatakan pihaknya berhasil memperoleh uang senilai 200 ribu rial atau sekitar Rp 740 juta. Uang itu didapat melalui bantuan pengacara dan tokoh masyarakat setempat.



Uang itu didapatkan setelah pihak ahli waris SMW menerbitkan surat pemaafan terhadap kedua terdakwa yakni majikan dan istrinya. Surat itu dikuasakan kepada seseorang dan telah disampaikan dalam persidangan di Abha.

"Dengan pernyataan pemaafan tersebut, maka hak khusus pihak ahli waris untuk menuntut qishas terhadap terdakwa menjadi gugur," terang Safaat Ghofur, Pelaksana Fungsi Konsuler-1 sekaligus menjabat Koordinator Pelayanan dan Pelindungan (Yanlin) Warga KJRI Jeddah, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/2/2019).



Safaat menjelaskan hak yang masih diterima oleh ahli waris sesuai dengan putusan hukum pengadilan Arab Saudi adalah diyat syar'i senilai 55 ribu rial atau separuh dari nilai diyat untuk laki-laki sebesar 110 ribu rial. Selain itu, hak korban lainnya adalah sisa gaji yang belum terbayar selama 54 bulan atau senilai 32.400 rial.

Untuk meyikapi hal tersebut, Konjen RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, memerintahkan tim untuk mempelajari kembali kasus pembunuhan tersebut. Tim Pelindungan dan pengacara kemudian mendatangi majikan di Abha untuk melakukan negosiasi, dengan dibantu oleh tokoh terkemuka masyarakat setempat, yaitu Syeikh Sulthon Al Hadi, Kepala Polisi Agama di Abha.

Pada awalnya majikan hanya menanggupi untuk memberikan hak diyat, gaji dan santunan untuk korban sebesar 135 ribu rial. Namun tim pengacara kemudian bernegoisasi kembali dan akhirnya majikan sepakat untuk memenuhi hak korban senilai 200 ribu rial.

Sementara itu, berdasarkan keputusan Mahkamah Jazaiyyah yang telah diterima oleh Kantor Gubernur Asir, pengadilan segera melakukan penangkapan terhadap majikan dan isterinya untuk menjalani vonis tujuh tahun bagi majikan perempuan sebagai pelaku utama dan satu tahun penjara ditambah 100 (seratus) kali cambukan bagi majikan laki-laki.
(knv/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed