DetikNews
Jumat 15 Februari 2019, 19:09 WIB

Menengok Putra, Bocah Yatim-Piatu yang Jualan Cilok Hidupi Keluarga

Zakia Liland - detikNews
Menengok Putra, Bocah Yatim-Piatu yang Jualan Cilok Hidupi Keluarga Foto: Zakia Liland/detikcom
Tangerang Selatan - Seorang bocah di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Muhammad Saputra (12), mendadak viral di media sosial. Bocah kelas 3 SD ini menjadi perbincangan di media sosial karena berjualan cilok.

detikcom mendatangi sekolah Saputra di SDN Jurangmangu Timur I, Pondok Aren, Tangsel, Jumat (15/2/2019), pada jam istirahat. Saat itu, bocah yang disapa Putra tersebut sedang berjalan ke luar sekolah menuju rumahnya yang berjarak sekitar 30 meter dari sekolah.

"Mau ke rumah Kak, mau mengambil pesanan bu guru, bawang goreng, di rumah tetangga," kata Putra saat disapa detikcom.

Putra berjalan sedikit tergesa-gesa. Sambil mengobrol dengan temannya, dia mempercepat langkah kakinya.

Tetangganya--biasanya dia panggil Mama Aldi--itu berjarak dua rumah dari rumahnya. Tidak lama kemudian, dia membawa kresek berwarna merah yang berisi 4 bungkus bawang goreng.

Dia biasa dipanggil Putra.Dia biasa dipanggil Putra. (Zakia Liland/detikcom)


Dia lalu memasukkan kresek itu ke keranjang sepeda. Dia kemudian kembali ke sekolah dengan mengayuh sepedanya.

Selain berjualan cilok, Putra membantu 'memasarkan' bawang goreng buatan tetangganya untuk mendapatkan uang tambahan. Dia mendapat upah dari penjual bawang goreng setiap kali mendapat pesanan dari pembeli.

"Dapat Rp 20 ribu sekali dapat pesanan," kata Putra.

Tidak lebih dari 5 menit, Putra sudah sampai lagi di sekolahnya. Dia lalu memarkirkan sepeda di halaman parkir.

Dia lalu masuk ke ruang guru dan menyerahkan pesanan bawang goreng ke gurunya. Sambil menghabiskan jam istirahat, Putra lalu duduk-duduk dan bercengkerama dengan gurunya.

Putra tahu bahwa dirinya sudah jadi viral di media sosial belakangan ini. Dia penasaran dan ingin melihat video tentang dirinya di media sosial.



"Bu guru... saya mau lihat video yang ada sayanya," kata Putra.

Sang guru kemudian memperlihatkan potongan video tersebut. Putra hanya senyum-senyum melihat video tersebut.

Guru-gurunya sudah mengetahui bahwa Putra berjualan dalam dua bulan terakhir. Putra terpaksa berjualan untuk membantu sang kakak dalam menghidupi keluarga.

Putra adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Putra dan ketiga saudaranya adalah yatim-piatu.

Ibundanya meninggal sejak 10 bulan lalu setelah melahirkan adik bungsu. Tidak sampai di situ, Putra dan saudaranya harus kembali berduka karena ditinggal pergi sang ayah untuk selamanya.

Putra dan guru-gurunya.Putra dan guru-gurunya. (Zakia Liland/detikcom)


"Empat puluh hari mama meninggal, ayah meninggal. Sakit paru-paru," ucap Putra.

Sejak orang tuanya meninggal, Putra dan kakaknya saling bahu-membahu mencari uang untuk mencukupi keperluan sehari-hari. Setiap hari, Putra berjualan cilok berkeliling menggunakan sepedanya.

"Yang bikin kakak. Belajar dari mama," imbuhnya.

Sehari, Putra menjajakan 250 tusuk cilok di sekolah dan di sekitar rumahnya. Terkadang, jualan Putra tidak habis sehingga dia membagikan sisa jualan kepada tetangganya.

"Harganya Rp 2.000 (per tusuk)," katanya.

Sambil bersekolah, Putra berjualan. Meski merasa lelah, Putra tidak ingin mengeluh agar bisa membeli susu buat adik bungsunya.

"Buat beli susu adik, (usianya) 10 bulan," tuturnya.

Setelah jam sekolah usai, Putra tak langsung pulang ke rumah. Dia berkeliling di sekitar rumahnya untuk kembali berjualan.

"Cilok... cilok. Ciloknya, kak...!".

Tempat tinggal Putra.Tempat tinggal Putra. (Zakia Liland/detikcom)





(mea/mea)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed