Liput Bonek di Senayan, Wartawan Berlindung di Kantor PSSI
Jumat, 16 Sep 2005 15:26 WIB
Jakarta - Kehadiran ribuan suporter sepakbola di Jakarta membuat banyak kalangan miris, Jumat (16/9/2005). Mulai dari pengguna jalan, pedagang, aparat keamanan, hingga wartawan yang bertugas meliput.Cari selamat tentu saja perlu. Sebab para suporter sepakbola itu benar-benar nekat. Mereka tidak segan-segan memalak orang-orang yang mendekatinya, termasuk wartawan. Mulai minta rokok, uang recehan, hingga menjarah barang berharga lainnya.Pada Kamis kemarin, misalnya, seorang wartawan dikerjain bonek saat meliput di Stasiun Senen, Jakarta Pusat. Duit Rp 450 ribu di domplet amblas tanpa bekas. Hari ini, wartawan lagi-lagi jadi korban. Para bonek yang mengaku kelaparan, meminta rokok. Kalau tak punya rokok, si wartawan setidaknya harus merogoh duit Rp 50 ribu.Seorang wartawati yang nekat mendekati para bonek bahkan sempat jadi 'bulan-bulanan'. Handphone Nokia Communicatornya yang ditaksir seharga Rp 4 juta, dijarah. Wartawati yang sempat menangis itu juga mengalami pelecehan seksual.Karena kebrutalan para 'pecinta' kulit bundar itulah, wartawan lebih suka berlindung di tempat yang aman sembari memantau tingkah para bonekmania dari Surabaya, panser biru dari Semarang, dan Mac's Man dari Makassar. Kebetulan The Jakmania belum muncul.Tempat yang dirasa aman menurut wartawan adalah sekitar sekretariat PSSI yang letaknya juga di kawasan GBK, Senayan. Di situ puluhan polisi dan tentara berjaga. Banyaknya aparat keamanan itu membuat daerah itu menjadi kawasan teraman di Senayan yang kini dikuasai suporter yang bikin nyali ciut.Lewat para aparat, wartawan memantau perkembangan. Kadang kala sambil menguping handy talkie (HT). Kadang juga dengan bertanya-tanya kepada aparat yang baru tiba dari keliling-keliling. Kalaulah wartawan hendak keluar dari kawasan itu, pergi bersama aparat keamanan akan jauh lebih aman dibandingkan nekat pergi sendiri. Anda juga perlu waspada!
(nrl/)











































