DetikNews
Jumat 15 Februari 2019, 10:18 WIB

14 Anak Pengidap HIV/AIDS di Solo Ditolak Ortu Murid, Pemkot Turun Tangan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
14 Anak Pengidap HIV/AIDS di Solo Ditolak Ortu Murid, Pemkot Turun Tangan Ilustrasi gerakan antidiskriminasi HIV (Thinkstock/detikcom)
Solo - Sebanyak 14 anak dengan HIV/AIDS (ADHA) di Solo terpaksa keluar dari sekolahnya karena ditolak orang tua murid. Pihak-pihak terkait kini masih mencari solusi untuk masalah tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada Januari 2019. Hingga kini para ADHA belum bersekolah dan hanya belajar di rumah singgah atau selter khusus ADHA di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bhakti, Pucangsawit, Jebres, Solo.

Ketua Yayasan Lentera, Yunus Prasetyo, membenarkan kejadian itu. Ke-14 anak tersebut sudah tidak bersekolah lagi di SD Purwotomo.

"Para orang tua murid membuat surat keberatan atas keberadaan anak-anak kami di sana. Kami sedang berkoordinasi dengan pemerintah," kata Yunus saat ditemui di selter Lentera, Rabu (13/2/2019).

Yunus mengatakan penolakan di sekolah baru terjadi kali ini. Sebelumnya, saat bersekolah di SD Bumi, Laweyan, mereka dapat menempuh pendidikan selama tiga tahun tanpa gangguan.

Justru kesulitan datang dari pihak lain. Seperti saat di Bumi, mereka tidak diperkenankan memperpanjang sewa rumah. Saat pindah di Kedunglumbu, Pasar Kliwon, mereka mendapatkan penolakan hingga harus kembali ke daerah Laweyan.





Hingga akhirnya pada Desember 2017 mereka diberi tempat oleh Pemkot Surakarta di kawasan TMP Kusuma Bhakti. Bahkan tempat tersebut kini diperbesar atas bantuan beberapa perusahaan.

Yunus berharap pemerintah tidak hanya memberikan rumah singgah yang layak, namun juga hak mendapatkan pendidikan. Yunus ingin ADHA memperoleh haknya tanpa diskriminasi.

"Saya ingin mereka tetap bersekolah di sekolah formal. Tidak boleh ada diskriminasi dengan mereka yang sakit," katanya.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo menyayangkan adanya penolakan tersebut. Menurutnya, memang masyarakat belum tersosialisasi dengan baik mengenai penyakit HIV/AIDS.

"Walaupun penyakit hanya ditularkan lewat hubungan seksual dan jarum suntik, tapi yang namanya masyarakat ya pokoke mboten (pokoknya tidak mau)," ujar Rudy.

Pemkot berupaya agar bisa mendapatkan solusi pekan ini. Sekolah-sekolah di sekitar selter ADHA akan dikumpulkan untuk membahas kemungkinan bersekolah di sana.

"Sebenarnya solusi yang mudah itu homeschooling, tapi akan menjadi diskriminatif. Mudah-mudahan mereka bisa bersekolah di Jebres, yang dekat dengan rumah singgah," tutupnya.


Simak Juga 'Haru! Reaksi Masyarakat terhadap Pejuang HIV':

[Gambas:Video 20detik]


14 Anak Pengidap HIV/AIDS di Solo Ditolak Ortu Murid, Pemkot Turun Tangan

(bai/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed