detikNews
Kamis 14 Februari 2019, 14:31 WIB

Komnas PA Ungkap Kesaksian Korban Paedofil di Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Komnas PA Ungkap Kesaksian Korban Paedofil di Bali Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait/Foto: Aditya Mardiastuti-detikcom
Denpasar - Kasus paedofilia yang terjadi di salah satu asrama di Bali menjadi sorotan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Salah satu siswa yang sempat kabur dari asrama tersebut menegaskan adanya peristiwa paedofil.

Hal itu disampaikan Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait usai bertemu Dirkrimum Polda Bali Kombes Andi Fairan. Arist mengaku sempat bertemu dengan salah satu dari 12 siswa yang kabur dari asrama tersebut tahun 2010.

"Ukurannya mengingat kembali itu akan trauma. Ketika tadi malam sangat hati-hati karena dia sudah dewasa, sudah menikah dan punya anak. Ketika berita ini muncul sudah bikin tidak nyaman," kata Arist di Mapolda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Kamis (14/2/2019).






Kepada Arist, saksi tersebut mengakui peristiwa paedofilia itu. Bahkan senior-senior di asrama tersebut juga memberikan nasihat tentang modus guruji berinisial GI itu.

"Kuncinya membuat saya harus membongkar karena ada peristiwa bukan dugaan-dugaan. Diajak mandi bersama, minta pijat setelah melakukan tarian atau yoga, diajak ke kamar dan sebagainya, ini harus dibuktikan di antara 12 orang siapa yang mengalami itu, " ujar Arist.

"Dan bahkan senior-senior dia mengatakan jangan sampai, harus menghindari kalau terjadi pemanggilan, sudah ada antisipasinya. Senior mereka memerintahkan ke juniornya jangan berliuk-liuk (yoga atau tarian) bagus, karena ketika berliuknya bagus pasti akan dipanggil. Ketika dipanggil senior mengatakan pura-pura sibuk belajar supaya tidak bisa dipanggil," imbuh Arist menirukan ucapan korban.

Sehari sebelumnya, Arist juga sudah mendatangi asrama tersebut di Klungkung. Arist meyakini indikasi paedofilia itu benar-benar terjadi di asrama tersebut.






"Suasana mendukung sekali, tempat, kegiatan-kegiatannya meditasi, yoga, sudut-sudut ruangan, lalu ruangan tempat tidur. Satu asramanya satu orang satu kamar, padahal satu cottage itu ada tiga kamar tapi dihuni satu orang. Lalu ada satu tempatnya gus itu, saya menyimpulkan ada peristiwa," ujarnya.

Selain soal jumlah penghuni kamar, Arist juga menyoal terkait kegiatan di asrama tersebut. Salah satunya yoga yang dia nilai berbeda dengan gerakan yoga pada umumnya.

"Model yoga bukan yang biasa, ada orientasi. Untuk membuktikan itu makanya saya koordinasi sama polisi," katanya.


(ams/fdn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com