detikNews
Kamis 14 Februari 2019, 13:30 WIB

BPN Bantah Cetak Pamflet Salat Bareng Prabowo di Masjid Agung Semarang

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
BPN Bantah Cetak Pamflet Salat Bareng Prabowo di Masjid Agung Semarang Foto: Andre Rosiade (Azizah/detikcom)
Jakarta - Ketua Masjid Agung Semarang, KH Hanief Ismail menegaskan tidak melarang capres Prabowo Subianto salat di Jumat di Masjid Agung Semarang (MAS) atau Masjid Kauman Semarang, melainkan hanya keberatan adanya pamflet dianggap politisasi. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno menegaskan pihaknya tak pernah membuat pamflet ajakan tersebut.

"Tidak ada pihak kami yang membuat pamflet. Kami nggak pernah membuat pamflet. Baik DPD Gerindra maupun BP Provinsi Jateng. Jadi pamflet ajakan dan segala macam itu bukan dari kami," ujar Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade kepada wartawan, Kamis (14/2/2019).

Andre mengatakan, pihaknya juga tak tahu menahu mengenai pamflet ajakan untuk salat bersama Prabowo di Masjid Kauman Semarang itu.

"Kami nggak tahu (siapa yang bikin)," katanya.


Politikus Gerindra itu juga menegaskan bahwa tidak ada niat dari sang capres untuk mempolitisasi ibadah maupun masjid. Prabowo murni ingin melakukan salat Jumat di masjid bersejarah tersebut, lantaran pada tanggal 15 Februari besok capres nomor urut 02 itu menyampaikan pidato kebangsaan di Semarang.

"Saya rasa semua umat Islam berhak dong pergi salat, dan Pak Prabowo kan nggak minta safnya dimundurin satu saf. Nih saya mau menjelaskan secara detail kepada Pak Ketua Takmir. Mempolitisasi itu membawa wartawan dan kameramen ke dalam masjid, dan safnya dimundurin satu saf supaya ada ruang bagi wartawan untuk foto-foto. Itu yang dinamakan politisasi salat, politisasi masjid. Pak Prabowo kan hanya numpang salat sebagai umat Islam," tutur Andre.

"Kan kebetulan pada tanggal 15 itu Pak Prabowo ada kegiatan di Semarang. Karena masjid Kauman itu masjid bersejarah dan masjid besar di Semarang. Jadi nggak ada niat untuk politisasi," sambungnya.

Andre mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah berkomunikasi dengan KH Hanief Ismail untuk mengklarifikasi perihal tersebut.

"Saat ini menurut informasi, Pak Wahid, DPD Gerindra dan DPC Gerindra di Semarang lagi berkomunikasi dengan Ketua Takmir masjid untuk mengklarifikasi dan menjelaskan bahwa tidak ada politisasi. Jadi ada tim yang lagi membangun komunikasi di sana," ungkap Andre.


Sebelumnya beredar kabar bahwa KH Hanief Ismail keberatan adanya rencana Prabowo Subianto akan melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Semarang, Jum'at (15/2) besok. Alasannya salat Jumat yang akan diadakan oleh Prabowo itu dinilai mempolitisir ibadah dan memakai masjid untuk kepentingan politik.

Politisasi itu dapat dilihat dari upaya mengerahkan massa dan menyebar pamlfet ke masyarakat agar ikut salat Jumat bersama Prabowo Subianto di masjid tersebut.

Namun informasi mengenai larangan itu dibantah oleh KH Hanief. Dia menegaskan bahwa pihaknya memang keberatan dengan penyebaran pamfet untuk ajakan salat Jumat bersama capres tersebut.

"Kami hanya merasa keberatan adanya pamflet ajakan salat Jumat bersama Prabowo di Masjid Kauman. Artinya keberatan kami salat dijadikan ajang kampanye atau dipolitisasi," tegas KH Hanief.
(mae/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com