Terkait hal itu, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir, mengatakan lembaga survei punya asosiasi tersendiri. Erick melihat ada perbedaan hasil survei dari lembaga yang masuk asosiasi dan tidak.
"Kembali, kan lembaga survei ada asosiasi. KPU juga akui lembaga survei yang memang sudah ditetapkan. Kita melihat lembaga survei mayoritas lebih dari 20 (persen). Kalau ada lembaga yang tidak masuk dalam asosiasi, (seperti) Median, Puskaptis, itu kan bedanya lebih dari 15 persen," kata Erick kepada wartawan di kantor TKN, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Silakan paparkan terbuka, transparan, ini menjadi nilai bersama. Pernah juga 2014 lembaga survei yang mengklaim sudah menang tapi tidak benar. Ini juga jangan manipulatif," tutur Erick.
Senada dengan Erick, Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate mengatakan survei semestinya dilakukan dengan metode akademis. Johnny menganggap ucapan Fadli bagai mimpi di pagi hari.
"Itu mimpi di pagi hari. Mari bekerja di metode akademis, untuk menjadi acuan kita melihat tren perbedaan suara 01-02 masih unggul 20 persen, dan itu akan dipertahankan," ucap Johnny di lokasi yang sama.
Sebelumnya, Fadli Zon menyatakan optimistis Prabowo-Sandiaga menang pada Pilpres 2019. Dia memprediksi pasangan nomor urut 02 itu menang dengan raihan suara 63 persen.
"Kami targetkan, yang menurut prediksi saya sih, insyaallah kami menang dengan 63 persen," kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/2/2019).
Target ini, disebutkan Fadli, bukan tanpa dasar. Sebab, kata dia, saat ini survei internal timses Prabowo-Sandi menyatakan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin kini sudah tertinggal 1-2 persen.
"Saya kira sudah melampaui sekarang," ujar Fadli. (jbr/bag)











































