Miris! Bertahun-tahun Pasien di Rampi Harus Ditandu Puluhan Kilometer

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Rabu, 13 Feb 2019 11:29 WIB
Foto: Pasien ditandu di Luwu Utara (ist)
Makassar - Jenazah warga Rampi, Luwu Utara, Sulawesi Selatan yang ditandu puluhan kilometer menjadi viral. Ini bukanlah kasus pertama, di lokasi ini, seorang pasien juga harus ditandu ke rumah sakit kabupaten yang jaraknya puluhan kilometer.

"Ini sudah mampir sepuluh kali terjadi warga yang meninggal kami di Rampi harus ditandu puluhan kilometer untuk kembali ke Rampi," kata pemuda desa Rampi, Theo saat berbincang dengan detikcom, Rabu (13/2/2019).

Dia menghitung, dibutuhkan waktu hampir 2 hari agar jenazah bisa sampai di peristirahatan terakhirnya. Theo menggambarkan, perjalanan menuju Rampi dari Masamba harus melewati wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng). Misalnya, Jenazah berangkat dari Masamba menuju Poso. Dari Poso, jenazah masuk ke wilayah Pamona.



"Dari Bada untuk sampai desa pertama ke Rampi itu sekitar 36 kilomter. Ini baru desa pertama. Kalau desa lainnya bisa mencapai 60 kilometer ke desa saya dan ini bisa makan waktu sehari semalam berjalan kaki dengan memikul tandu," ujarnya.

"Ini tolonglah kepada pemerintah agar akses jalan diperbaiki," tambah dia.

Sementara itu, salah seorang tenaga medis di Rampi juga mengutarakan hal serupa. Dia bercerita bagaimana susahnya merujuk pasien ke rumah sakit kabupaten karena jeleknya akses jalan.

"Ini mengingatkan saya pada kejadian 2 tahun lalu, bagaimana sibuknya kami di gunung berusaha dengan pasien pendarahan yang seharusnya segera dirujuk," kata tenaga medis itu saat dikonfirmasi terpisah oleh detikcom.



Bersama beberapa koleganya. mereka sempat menemukan beberapa pasien dan keluarga yang menolak dirujuk ke rumah sakit kabupaten karena jauhnya jarak dan harga yang mahal yang dikeluarkan jika menggunakan pesawat.

"Pernah kejadian serupa tahun 2017 ada yang meninggal dan harus ditandu. Lalu akses pesawat dengan harga yang fantastis (non subsidi)," kata dia.

Dia pun hanya berharap, dengan segala keterbatasan tenaga medis yang bertugas di daerah Rampi, akses jalan menuju daerah itu segera diperbaiki, termasuk menyediakan ambulans atau subsidi tiket pesawat khusus pasien yang akan dirujuk ke rumah sakit kabupaten.

"Sampai saat ini, 2 tahun berlalu masih sama. Setiap awal tahun kontrak pesawat subsudi belum kunjung ada, sehingga pesawat hanya 2 kali dalam seminggu terbang komersil dengan harga non subsidi," ucapnya.

"Semoga fasilitas ambulans di Rampi sudah bisa digunakan oleh masyarakat," ucapnya. (fiq/rvk)