DetikNews
Selasa 12 Februari 2019, 15:23 WIB

Beda dari Sindiran Fadli, Begini Cerita 'Petruk Dadi Ratu' Versi Umum

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Beda dari Sindiran Fadli, Begini Cerita Petruk Dadi Ratu Versi Umum Fadli Zon (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua DPR yang juga Waketum Gerindra, Fadli Zon, kembali menyitir lakon pewayangan 'Petruk Dadi Ratu' seraya menyindir capres petahana Jokowi. Sementara sosok Petruk dalam sindiran Fadli dicitrakan tak berkapasitas jadi raja, pada versi umum dalam dunia pewayangan rupanya itu berbeda.

"Petruk kemudian menjadi ratu karena ingin membangun, mendandani, memperbaiki moral bangsa, memperbaiki akhlak, perilaku manusia, perilaku melenceng," ungkap pengajar sastra Jawa UI Darmoko saat berbincang dengan detikcom, Selasa (12/2/2019).



Fadli menyebut Petruk bisa menjadi raja karena mendapat 'wahyu keprabon'. Sedangkan dalam cerita wayang, Petruk bisa menjadi raja (dalam Basa Jawa disebut 'ratu') karena menggunakan pusaka Jamus Kalimasada.

"Wahyu keprabon itu biasanya turun-temurun, didapatkan oleh yang berhak. Misalnya didapatkan oleh tokoh Abimanyu, Arjuna. Meskipun Abimanyu gugur di medan perang, tapi kan menurun ke anaknya, Parikesit," ujar Darmoko.

Sementara itu, Jamus Kalimasada jika diterjemahkan ke dunia nyata berarti 'dua kalimat syahadat'. Darmoko memaknai pusaka Jamus Kalimasada sebagai kedekatan dengan Tuhan.



"Petruk sebagai simbol rakyat kecil ingin mencoba kedigdayaannya (Jamus Kalimasada), ternyata dia bisa menjadi penguasa. Kalau Petruk orientasinya positif, kalau yang merasa ada dampak negatifnya memang mereka yang lawan-lawan dari Petruk yang berusaha menjatuhkan," tutur Darmoko.

Sementara dalam sindiran Fadli sosok Petruk terungkap wujud aslinya karena 'wahyu keprabon' hilang, menurut Darmoko, justru Petruk terungkap oleh orang dekatnya sesama Ponokawan atau yang kemudian dikenal kebanyakan orang dengan Punokawan. Sedangkan gelar Petruk ketika menjadi raja memang 'Prabu Kantong Bolong' sesuai dengan yang disebut Fadli. Hanya, Fadli kurang lengkap menyebutkannya, seharusnya 'Prabu Kantong Bolong Welgeduwelbeh'.

"Kantong bolong jika diartikan bebas memang boros, selalu tidak tersimpan segala sesuatu, artinya dalam menyimpan segala sesuatu harta segala sesuatu terus habis. (Tapi) dalam konteks ini (Petruk Dadi Ratu) dalam hal-hal ilmu pengetahuan, dia bisa menguasai yang lebih luas. Karakteristiknya Petruk memang lebih pintar ketimbang Gareng maupun Bagong, mempunyai pengetahuan, pintar mendeskripsikan rinci dibanding dengan yang saudara-saudaranya. Gelar ini dibangun secara stereotip oleh masyarakat Jawa, memang 'kantong bolong' dibangun ciri Petruk sendiri, ada sisi positifnya ada sisi negatifnya," papar Darmoko.

Beda dari Sindiran Fadli, Begini Cerita 'Petruk Dadi Ratu' Versi UmumTokoh wayang kulit Petruk. (Foto: Tropenmuseum via Wikimedia Commons)


Sementara itu, 'Welgeduwelbeh' dalam gelar Petruk, menurut Darmoko, hanya kiasan. Gelar itu menggambarkan sosok Petruk yang berasal dari desa, rakyat jelata, kemudian bisa menjadi raja.

Lakon Petruk Dadi Ratu

Darmoko pernah mengirimkan esai tentang lakon 'Petruk Dadi Ratu' kepada detikcom. Kala itu dia berkomentar tentang puisi Fadli Zon yang juga menyitir lakon tersebut.

"Petruk dengan kekuasaan yang dimiliki berusaha menegakkan keutamaan, kebenaran, dan keadilan bagi rakyat di nagara Loji Tengara, mengingatkan para kasatria Pandawa yang lupa diri, silau terhadap kekuasaan, dan memperbaiki sikap Pandawa yang tidak peduli terhadap rakyat," tutur Darmoko kala itu.

Berikut ini ringkasan cerita Petruk Dadi Ratu versi Darmoko:

Prabu Bumiloka, raja Ima Imantaka, yang didukung oleh adiknya, Mustakaweni dan begawan Mustakaraja (perubahan wujud dari Aji Gineng, pusaka prabu Niwata Kawaca, ayah Prabu Bumiloka) ingin menguasai jimat kalimasada dengan cara menyamar sebagai orang-orang Pandawa. Demikian pula orang-orang Pandawa tidak kalah untuk menunjukkan kedigjayaannya dengan berubah wujud sebagai orang-orang Ima Imantaka. Dalam adu kesaktian saling menunjukkan kedigjayaan dalam upaya penguasaan terhadap jimat kalimasada, akhirnya jimat kalimasada dapat dikuasai oleh Bambang Priyambada, anak Arjuna. Bambang Priyambada (kemudian menjadi kekasih Mustakaweni), menyerahkan jimat kalimasada kepada Petruk untuk dititipkan. Bambang Priyambada bersama Mustakaweni bergabung dengan para Pandawa di Saptaarga, sementara Petruk meninggalkan Amarta menuju ke suatu tempat yang jauh agar tidak tertangkap dari kejaran orang-orang Ima Imantaka.
(bag/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed