Dapat Dukungan Alumni Trisakti, BPN: Nggak Usah Politisasi Kasus '98

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Sabtu, 09 Feb 2019 20:28 WIB
Jubir BPN Andre Rosiade. (Foto: Tsarina/detikcom)
Jakarta - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meminta capres petahana Joko Widodo (Jokowi) tidak mempolitisasi kasus 12 Mei 1998 Trisakti. BPN juga menyinggung Jokowi yang dinilai belum bisa menuntaskan janjinya untuk menyelesaikan kasus itu.

"Yang kita tahu 12 Mei 2014 Pak Jokowi berjanji akan menuntaskan kasus 12 Mei Trisakti 1998. Itu 12 Mei 2014 Pak Jokowi berjanji, sekarang berapa bulan lagi akan menjadi 5 tahun sudah Pak Jokowi berjanji menuntaskan kasus 12 Mei 1998," kata juru bicara BPN Andre Rosiade kepada detikcom, Sabtu (9/2/2019).

"Faktanya janji Pak Jokowi masih janji palsu gitu. Jadi nggak usah lah mempolitisi kasus 12 Mei 1998 kalau memang tidak bisa menyelesaikan," imbuhnya.

Andre yang juga mantan Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti di era reformasi ini mempersilakan jika Jokowi ingin mendapat dukungan dari alumni Trisakti. Namun, menurutnya, Jokowi tidak perlu menyinggung kasus Mei 1998.




"Jadi sekali lagi saya sampaikan kepada Pak Jokowi nggak usah, kalau ingin mendapat dukungan alumni Trisakti monggo silakan, tapi tidak usah menyinggung-nyinggung kasus 12 Mei 1998. Karena bagi saya ya, sebagai alumni, saya rasa ini janji-janji palsu saja gitu lho untuk menuntaskan kasus ini," ujarnya.

Politikus Gerindra ini menilai acara deklarasi alumni Trisakti mencoba mengkapitalisasi kasus Mei 1998 dengan pemutaran film dokumenter tentang kasus itu. Andre sekali lagi menyinggung Jokowi yang belum bisa memenuhi janjinya menuntaskan kasus Trisakti.

"Jadi saya minta tidak usah mengkapitalisasi 12 Mei 1998. Karena Pak Jokowi, jadi kelihatan deklarasi tadi ingin mencoba mengkapitalisasi 12 Mei 1998 dengan pemutaran film dan dibilang 'pelanggaran HAM ini tertoreh dan belum dituntaskan'. Ya yang berjanji menuntaskan itu Pak Jokowi pada 12 Mei 2014 tapi sampai sekarang belum tuntas gitu lho. Jadi lucu ini Ketua Alumni Trisakti Pendukung Jokowi Mohanta Hatta ini, agak lucu gitu," tuturnya.

Andre lalu menyampaikan jika Prabowo terpilih menjadi presiden, ia akan menuntaskan kasus Mei 1998. Andre juga meminta Jokowi tidak terlalu banyak mengumbar janji.

"Jadi saya ingin sampaikan bahwa kalau Prabowo jadi presiden insyaallah kasus 12 Mei akan dituntaskan. Berbeda dengan Pak Jokowi sudah berkuasa sampai sekarang belum tuntas, belum jelas kebijakannya soal kasus 12 Mei 1998. Padahal itu janji kampanye Pak Jokowi," ucapnya.



"Dan saya minta Anda sudah menjadi presiden, apalagi yang mau Anda janjikan selain menuntaskan? Faktanya sampai sekarang Anda berkuasa 4 tahun kasus ini belum bisa Anda tuntaskan," pungkas Andre.

Sebelumnya, capres petahana Joko Widodo (Jokowi) menerima dukungan dari Alumni Trisakti Pendukung Jokowi. Deklarasi ini disebut untuk menggelorakan semangat reformasi.

"Semangat reformasi harus tetap menggelora. Namun pelanggaran HAM telah tertoreh dan belum dituntaskan hingga sekarang. Deklarasi ini juga merupakan suatu momen untuk membuka wawasan mereka yang tidak paham apa yang terjadi pada tanggal 12 Mei 1998 itu," kata Ketua Alumni Trisakti Pendukung Jokowi, Muhanto Hatta, di Basket Hall GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (9/2).

Jokowi juga diberi jaket dan megafon berwarna merah. Jokowi pun lalu bergaya seperti akan berorasi.

"Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian, saya bukan diktator, saya juga bukan pelanggar HAM dan saya juga bukan...," ujar Jokowi melalui megafon.

Pada bagian ini, Jokowi terdiam sejenak. Hadirin lalu menyahut dengan 'penculik'. Jokowi hanya terdiam lalu melanjutkan orasinya.

"Saya tidak memiliki beban masa lalu. Itu saja dan terima kasih atas pemberian megafon ini kepada saya," tegasnya. (azr/zak)