DetikNews
Kamis 07 Februari 2019, 21:08 WIB

Kenapa Adi Saputra Hancurkan Motor Saat Ditilang?

Aisyah Kamaliah, Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Kenapa Adi Saputra Hancurkan Motor Saat Ditilang? Aksi Adi Saputra saat banting-banting motor. (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Entah apa yang ada di benak Adi Saputra (20) ketika membanting-banting motor yang dia kendarai setelah ditilang. Polisi menduga Adi beraksi demikian lantaran tak terima ditilang polisi.

"Awalnya dia nggak mau ditilang, tidak mau diberi penindakan, tetap tidak bisa, kita tetap melaksanakan tugas untuk memberikan penindakan pelanggar lalu lintas," tutur Kasat Lantas Polres Tangsel AKP Lalu Hedwin saat dihubungi, Kamis (7/2/2019).

[Gambas:Video 20detik]




Peristiwa ini bermula ketika Adi bersama pacarnya mengendarai motor di kawasan BSD, Serpong, Tangerang Selatan, pukul 06.30 WIB tadi. Petugas yang melihat Adi tak memakai helm dan melawan arus kemudian menilangnya.

Meski pacarnya terus menangis sembari meminta menyudahi amarahnya, Adi tetap saja membanting-banting motor. Motor tersebut hampir mengenai pacarnya dan polisi yang menilang bernama Bripka Oky.

Dipandang dari sisi psikologis, perilaku Adi dianggap ingin meluapkan amarah. Bisa jadi Adi tak tahu harus bicara apa sehingga memilih meluapkannya dengan cara seperti itu.



"Tapi kalau mau diladeni, mesti orang yang paham juga bagaimana berkomunikasi dengan orang seperti itu (jangan tanya caranya seperti apa, karena tergantung orangnya)," ujar psikolog Universitas Indonesia (UI) Bona Sardo.

Bona juga menyoroti usia Adi yang masih muda. Menurut Bona, konsep diri seorang pemuda biasanya belum utuh.

"Konsep diri mungkin belum terlalu utuh, yang turut mempengaruhi pengenalan emosi yang mungkin belum baik juga, sampai ke pengelolaan dan ekspresi emosi yang juga buruk. Usia remaja kan waktunya pembentukan identitas diri," tutur Bona.

Selain itu, pola asuh orang tua di rumah terkait pengenalan dan ekspresi emosi pada anak bisa berpengaruh. Pengalaman hidup yang pernah dialami si anak dan bagaimana dia menghadapinya (coping skills) pun berpengaruh.

"Lalu, apakah ini kejadian yang memicu amarah pertama kali (sehingga masih belum tahu caranya bagaimana) atau sudah berkali-berkali tapi memang caranya juga tidak pernah tepat dan tidak belajar dari lingkungan sekitar mengenai cara ekspresi emosi yang tepat," ujar Bona.

Sementara itu, menurut psikolog forensik Reza Indragiri Amriel, ada kemungkinan seseorang yang memendam amarah bisa meluap seperti yang dilakukan Adi. Reza lantas mengungkap tentang teori 'frustrasi agresi'.

"Teori frustrasi agresi: orang yang putus asa dan sejenisnya bisa menyalurkannya ke dalam perilaku kekerasan. Bisa langsung ke objek/subjek yang memunculkan perasaan frustrasi, bisa pula dialihkan ke sosok pengganti. Displacement, istilahnya," ungkap dia.

Ada pula teori intermittent explosive disorder yang juga disinggung Reza. Berdasarkan teori ini, masalah kejiwaan memicu episode mendadak dari perilaku impulsif, agresif, kekerasan, atau ledakan verbal yang eksplosif. Dalam kondisi tersebut, seseorang bisa bereaksi sangat tidak proporsional dengan situasi.
(bag/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed