Karen Agustiawan Bantah Korupsi: Investasi Pertamina Bisnis Murni

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 07 Feb 2019 11:43 WIB
Karen Agustiawan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan membantah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan jaksa. Karen, lewat nota keberatan (eksepsi) pengacara, menegaskan investasi Pertamina murni bisnis.

"Perbuatan terdakwa Karen Agustiawan dan direksi lainnya merupakan keinginan Pertamina untuk meningkatkan cadangan dan produksi minyak mentah yang sejalan dengan Rencana Kegiatan dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2009 untuk menjamin kelancaran pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Artinya, perbuatan terdakwa ini adalah bisnis murni sebagai pelaksanaan prinsip fiduciary duty jajaran direksi," kata pengacara Karen, Soesilo Aribowo, membacakan eksepsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019).

Pengacara menyebut tindakan Karen bukan tindak pidana korupsi. Alasannya, Karen hanya bertugas, bukan melakukan penyimpangan pada investasi.





"Seharusnya penuntut umum dapat memahami bahwa perbuatan terdakwa Karen Agustiawan dalam perkara a quo merupakan bagian dari aksi korporasi dalam domain hukum perdata, casu quo hukum korporasi. Hal ini dapat dicirikan dari perbuatan terdakwa dan direksi lainnya sebagaimana didakwakan pada saat itu adalah untuk dan atas nama serta untuk kepentingan perseroan, PT Pertamina, bukan kepentingan pribadi," katanya.

Menurutnya, keputusan investasi Pertamina dimaksudkan untuk meningkatkan cadangan minyak mentah yang sejalan dengan program Rencana Kegiatan dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2009.

"Perbuatan terdakwa dan direksi lainnya juga merupakan keinginan Pertamina untuk meningkatkan cadangan dan produksi minyak mentah yang sejalan dengan RKAP Tahun 2009 untuk menjamin kelancaran pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Artinya perbuatan terdakwa ini adalah bisnis murni," ucapnya.

Selain itu, Soesilo menganggap dakwaan jaksa tidak jelas dan tidak lengkap. Sebab, tidak menguraikan lebih lengkap dan jelas mengenai siapa yang diuntungkan dalam kasus ini.

"Walaupun penuntut umum telah menyebutkan jumlah kerugian negara Rp 506 miliar, dan pihak yang diperkaya atau diuntungkan terkait tindak pidana ini adalah ROC Oil Company Limited Australia, namun penuntut umum sama sekali tidak memberikan penjelasan tentang sejauh mana ROC Oil Company Limited Australia tersebut telah dilakukan pemeriksaan secara pro justitia, bagaimana status hukum pihak yang diperkaya atau menerima keuntungan atau menerima manfaat dari kasus ini," tuturnya.





Karena itu, Karen meminta majelis hakim menerima eksepsinya. Karen didakwa jaksa merugikan keuangan negara Rp 568 miliar atas investasi participating interest Blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia.

Investasi Pertamina di Blok BMG dinilai jaksa melanggar prosedur investasi yang diatur dalam UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan ketentuan pedoman investasi lainnya.

Dalam surat dakwaan diuraikan Pertamina tidak memperoleh keuntungan secara ekonomis lewat investasi di Blok BMG. Sebab, sejak 20 Agustus 2010, ROC selaku operator di Blok BMG menghentikan produksi dengan alasan lapangan tersebut tidak ekonomis lagi.


Simak Juga 'Sepak Terjang Karen, Eks Dirut Pertamina Tersangka Korupsi':

[Gambas:Video 20detik]


(zap/fdn)