Video Teleconference SBY Rawan Penyadapan
Rabu, 14 Sep 2005 13:48 WIB
Jakarta - Rapat kabinet gaya baru yang diterapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan video teleconference memunculkan kekhawatiran. Sekretaris Fraksi PPP DPR Lukman Hakim berpendapat, rapat dengan model teleconference sangat rawan terhadap penyadapan.Penyadapan tersebut sangat mungkin terjadi, baik dilakukan di Amerika Serikat tempat SBY menggelar rapat, maupun penyadapan melalui teknologi teleconference. "Kemungkinan bisa disadap sangat besar, sehinggateleconference ini rawan. Apalagi membicarakan masalah negara," kata Lukman Hakim kepada detikcom melalui telepon, Rabu (14/9/2005).Selain rawan penyadapan, politikus PPP ini juga menilai sidang kabinet jarak jauh merupakan fenomena baru dalam sistem ketatanegaraan. Sebab, dengan memimpin sidang dari luar negeri, terkesan Presiden tidak percaya lagi dengan Wakil Presiden."Konvensi selama ini kan kalau presiden ke luar negeri, maka wakil presiden yang "acting presiden" yakni mewakili presiden di dalam negeri. Termasuk di antaranya memimpin sidang kabinet," ujar mantan staf ahli Wapres ini.Seperti diketahui, Rabu pagi (14/9/2005) Presiden SBY kembali menggelar sidang kabinet lewat video teleconference dari AS. Dalam sidang kabinet ke 3 yang dilakukan jarak jauh ini, hadir Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menkes Siti Fadilah Supari, Menko Kesra Alwi Shihab, dan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra.
(jon/)











































