DetikNews
Minggu 03 Februari 2019, 18:40 WIB

UNHCR Harap Indonesia Izinkan Pengungsi Cari Pemasukan

Danu Damarjati - detikNews
UNHCR Harap Indonesia Izinkan Pengungsi Cari Pemasukan Pengungsi dari luar negeri di trotoar sekitar Rudenim Jakarta, kawasan Kalideres. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Karena tak boleh bekerja menghasilkan uang, para pengungsi dari luar negeri menghabiskan hari-harinya menunggu santunan di Kalideres, Jakarta. UNHCR (Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi) berharap Indonesia memberikan mereka izin untuk mencari pemasukan supaya bisa hidup lebih layak.

"Kami berharap agar ke depannya pengungsi di Indonesia dapat dilibatkan dalam livelihood opportunities dengan masyarakat, dalam arti dapat memperoleh kesempatan untuk membantu bisnis kecil penduduk sehingga mereka dapat membawa pulang sedikit imbalan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga mereka," kata Associate External Relations/Public Information Officer UNHCR, Mitra Salima Suyono, kepada detikcom, Minggu (3/2/2019).

Larangan bekerja bagi pengungsi tercantum dalam 'Surat Pernyataan Pengungsi' yang harus ditandatangani pengungsi bersertifikat UNHCR, sebagaimana yang tercantum dalam Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor: IMI-1489.UM.08.05 Tahun 2010 tanggal 17 September 2010. Berdasarkan keterangan yang didapat detikcom dari para pengungsi, mereka juga menyadari bahwa mereka tidak boleh bekerja di Indonesia.

UNHCR Harap Indonesia Izinkan Pencari Suaka BekerjaPara pengungsi dari Afghanistan, di Kalideres. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

"Pengungsi adalah orang-orang yang sama seperti kita semua, mereka memiliki keahlian, ketrampilan dan kelebihan yang ingin mereka sumbangkan kepada Indonesia," kata Mitra.



Mitra menjelaskan, para pengungsi yang berada di pinggir jalan kehabisan bekal untuk bertahan hidup. Mereka kini sangat tergantung dengan adanya donasi karena tak punya hak untuk bekerja. Bila mereka diperbolehkan mencari pemasukan, maka mereka bisa membantu masyarakat Indonesia juga.

"Misalnya, apabila seorang Indonesia memiliki bisnis kecil pembuatan roti, banyak sekali pengungsi yang ahli memasak dan membuat roti sehingga apabila mereka diperbolehkan untuk membantu, bisnis orang tersebut dapat diuntungkan dan pengungsi yang bersangkutan, diharapkan mendapatkan imbalan yang mungkin jumlahnya tidak besar, namun dapat sedikit mengurangi beban hidup mereka selama di Indonesia," kata Mitra.

Saat ini, UNHCR bekerja sama dengan lembaga lain untuk menangani kebutuhan pengungsi, lembaga-lembaga itu antara lain IOM (Organisasi Internasional untuk Migrasi), Dompet Dhuafa, CRS (Catholic Relief Services), CWS (Church World Service), PMI (Palang Merah Indonesia), dan lainnya.

Saat ini, jumlah pengungsi sudah berkurang bila dibandingkan dengan awal-awal menumpuknya mereka di area Kalideres, pada Agustus 2017 hingga 2018. Mitra memperkirakan jumlah mereka saat ini sekitar 100 orang. "Sementara jumlah pengungsi di Indonesia sekitar 14.000 orang," kata dia.



Sebelumnya, detikcom telah menemui pengungsi dari Afganistan dan Sudan yang bertahan di Jl Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat, yakni di sekitar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Mereka menggelar tikar atau kardus untuk duduk sepanjang hari di atas trotoar. Mereka berharap bantuan. Menurut para pengungsi, selalu ada orang yang memberikan makanan dan minuman untuk pengungsi.

UNHCR Harap Indonesia Izinkan Pencari Suaka BekerjaFoto: Pengungsi dari Sudan di Kalideres (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Mereka tidak bisa bekerja dan ingin segera diberangkatkan ke negara tujuan, yakni negara-negara yang meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 dan Protokol Pengungsi 1967, di antaranya adalah Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Kanada. Mereka sadar, Indonesia hanyalah negara transit yang tidak bisa mereka tempati selamanya. Indonesia belum meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 dan Protokol Pengungsi 1967.

Kini, negara-negara maju semakin mengetatkan kebijakan untuk menerima pengungsi. Kemungkinan mereka untuk diberangkatkan ke 'negara-negara pihak ketiga' bukannya sepenuhnya tertutup, melainkan kecil.

"Kemungkinan penempatan ke negara ketiga (resettlement) masih ada meskipun jumlahnya sangat terbatas. Namun resettlement bukanlah satu-satunya solusi yang ada. UNHCR sangat mendukung program private sponsorship, yaitu apabila ada pengungsi yang memiliki sanak keluarga di negara ketiga yang bersedia mensponsori keberangkatan dan keberadaan mereka di negara ketiga tersebut," kata Mitra.



UNHCR tidak bisa memengaruhi keputusan negara pihak ketiga yang diinginkan pengungsi menjadi negara tempat berlabuhnya, namun UNHCR hanya memfasilitasi proses pengajuan pemukiman kembali (resettlement). Penerimaan pengungsi lewat skema sponsor privat seperti di atas sepenuhnya berada di tangan pengambil keputusan negara penerima yang bersangkutan.

Indonesia perlu izinkan pengungsi bekerja?

Indonesia dinilai perlu mengizinkan para pengungsi bekerja, karena itu adalah hak ekonomi setiap manusia. Soalnya, Indonesia sudah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya lewat sidang Paripurna DPR pada 30 September 2005.

"Itu sesuai Konvenan Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang disahkan PBB tahun 1966," kata Ketua SUAKA, Febionesta. SUAKA adalah jaringan masyarakat sipil yang bekerja melindungi hak-hak pencari suaka.

Terlebih lagi, para pengungsi yang dibiarkan tidak bekerja berisiko melakukan hal-hal yang tidak baik bagi keamanan masyarakat. Maka lebih baik pemerintah membuka aktivitas ekonomi bagi mereka. Bila ada kekhawatiran mereka mengambil lapangan kerja Warga Negara Indonesia (WNI), maka mereka bisa diberi izin bekerja di sektor kewirausahaan.

"Mereka banyak yang punya jiwa wirausaha. Justru mereka bisa menciptakan lapangan kerja," kata Febionesta.

Di kancah pengungsi dunia, pengungsi yang menunggu di Indonesia berisiko mendapat nilai buruk karena minimnya perhatian. Dia melihat perlu ada pelatihan kerja bagi para pengungsi supaya mereka bisa lebih mudah diterima oleh negara-negara yang bakal menampungnya nanti.

"Posisi tawar pengungsi yang ada di Indonesia sangat rendah di skena pengungsian internasional, karena tidak punya skill," kata dia.

Simak berita-berita tentang balada pencari suaka di detikcom.



(dnu/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed