DetikNews
Minggu 03 Februari 2019, 17:14 WIB

Cerita Horor Orang Hazara: Diburu Taliban hingga Ngungsi ke Kalideres

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Cerita Horor Orang Hazara: Diburu Taliban hingga Ngungsi ke Kalideres Ali, menghadap ke belakang, dan para pengungsi dari Afganistan di Kalideres. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Wajah-wajah para pengungsi dari Afganistan di Kalideres, Jakarta Barat menyimpan cerita horor kemanusiaan. Mereka diburu Taliban hanya karena perbedaan etnis.

"Jadi mereka menyerang hanya karena suku kami berbeda, bahasa kami berbeda, ras kami beda, wajah kami berbeda, agama juga. Jadi kami menjadi target grup teroris di negara kami," kata Ali, pemuda 22 tahun yang sudah tiga tahun mengungsi di Indonesia. Dia bercerita kepada detikcom di pinggir Jalan Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (30/1/2019).

Afganistan merupakan negara yang dihuni beragam etnis. Ada enam etnis ditambah beberapa etnis lain. Pashtun (populer disebut Pushtun oleh orang Indonesia) adalah etnis mayoritas, disusul etnis Tajik, dan Hazara menempati urutan ketiga. Etnis Uzbek dan Turkmen ada di bawahnya, ditambah segolongan etnis-etnis lain yang lebih kecil, termasuk Nuristani hingga Arab.

Secara penampilan, orang Pashtun berparas kaukasoid. Bahasa mereka adalah Pashto, menjadi satu dari dua bahasa resmi negara. Etnis Pashtun memeluk agama Islam Sunni. Sedangkan Hazara, wajah mereka mengandung ciri mongoloid seperti orang Asia Timur.



Dijelaskan oleh Niamatullah Ibrahimi dalam buku 'The Hazaras and the Afghan State', orientalis Barat menyebut Hazara sebagai keturunan tentara Jenghis Khan dari Abad ke-13, namun sarjana-sarjana Afghanistan menolak teori itu karena sejarah Hazara lebih tua ketimbang invasi Jenghis Khan. Dalam hal agama, orang-orang Hazara kebanyakan memeluk Syiah, ada pula yang menganut Sunni.

Cerita Horor Orang Hazara: Diburu Taliban hingga Ngungsi ke KalideresPeta etnis di Afganistan (Niamatullah Ibrahimi/Buku 'The Hazaras and The Afghan State')

Masalah etnis-sektarian kemudian berjalin kelindan dan memicu konflik, hingga memaksa orang-orang Hazara pergi meninggalkan kampung halamannya. Ali adalah orang Hazara yang berasal dari Ghazni, Afganistan. Dia mengungsi bersama ayah, ibu, dan saudara laki-lakinya sejak 2015.

"Rumahku diserang, kami menjadi target," kata Ali yang memilih untuk tidak difoto wajahnya demi alasan keamanan. "Kelompok teroris di negara kami sangat kuat, bisa menemukan kamu di sudut manapun di Afganistan."

Di sekitar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta ini, Ali dan banyak pengungsi lainnya menunggu untuk diberangkatkan UNHCR (Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi) ke negara ketiga, yakni negara-negara yang menerima pengungsi dan memberi suaka. Dia tak mau balik ke Afganistan karena sangat berbahaya bagi dia dan keluarganya.

"Banyak orang Hazara yang jadi target setiap harinya. Beberapa bulan lalu mereka menyerang Ghazni, Jaghori, Malistan, dan banyak area lainnya, bahkan Daykundi juga," tutur Ali dalam Bahasa Inggris. Dia memang punya kemampuan berbahasa Inggris lebih baik ketimbang teman-temannya di sini sehingga mampu berkomunikasi dengan lebih baik ke orang non-Afganistan di sini.



Di titik lain trotoar Jalan Peta Selatan, Kalideres, Ahmad Zakaria (32) sedang duduk di atas tikar bersama rekan pengungsi lainnya. Dia menjelaskan, kondisi yang dialami pengungsi Afganistan rata-rata sama saja.

"Semua orang di sana ada masalah, mereka pergi meninggalkan Afganistan karena perang, karena Taliban, mereka menyerang banyak wilayah, membunuh orang-orang, menyerang rumah-rumah, mereka merusak kota, meledakkan diri sendiri, membersihkan orang-orang, menembak orang-orang," kata dia dalam Bahasa Inggris.

Cerita Horor Orang Hazara: Diburu Taliban hingga Ngungsi ke KalideresAbdul Zabi memegang payung, dan Ahmad Zakaria yang sengaja mengenakan masker saat difoto demi alasan keamanannya. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Bagi orang-orang seperti Zakaria, negara sendiri yang dicintai sudah tidak aman lagi karena mereka merasa diburu. "Bahkan di tempatmu sendiri, di lubang-lubang manapun, tidak ada yang aman. Jadi itu alasan orang-orang merasa terancam dengan mereka," kata dia.

Awalnya, Zakaria melarikan diri dari desanya di Ghazni ke Pakistan karena ada serangan Taliban. Itu terjadi pada 1999. Invasi Amerika Serikat (AS) di Afganistan beberapa tahun silam justru sempat membuat Zakaria sedikit punya harapan. Pikirnya, tentara AS pasti melibas petempur Taliban dan akhirnya desanya bisa lebih aman. Maka dia balik lagi ke Afghanistan, bukan di Ghazni tapi di Ibu Kota Kabul. Soalnya, rumah di Ghazni sudah tak bisa ditinggali karena luluh lantak oleh serangan Taliban.

"Taliban menyerang di mana-mana. Bukan hanya desa saya yang diserang, tapi di mana-mana. Di manapun mereka mau, mereka menyerang. Mereka itu teroris," kata Zakaria.



Zakaria menyatakan dirinya adalah orang Hazara. Dia menilai, Taliban memusuhi orang Hazara karena kebanyakan orang Hazara tak mau bekerja sama dengan Taliban. Di komunitasnya, banyak pemuda terdidik dan ingin hidup damai. Dia sendiri bahkan sempat bersekolah di India dan bekerja di perusahaan swasta di Kabul, meski kini telantar di trotoar Kalideres. Sebagai orang Hazara, dia merasa etnisnya menjadi target utama.

"Yang etnis lain juga, tapi kebanyakan mereka menyerang orang-orang Hazara. Karena kami mau ke sekolah, kami mau kedamaian, bekerja kepada pemerintah," ujarnya.

Zakaria bersama istri dan putrinya yang berumur 2 tahun 5 bulan telah lari dari kekacauan terorisme di negaranya, menuju India, Malaysia, dan kini di Indonesia.

Cerita Horor Orang Hazara: Diburu Taliban hingga Ngungsi ke KalideresFoto ilustrasi: Para pengungsi pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Dilansir AFP, Taliban juga menyerang dua pos pemeriksaan di distrik Jaghori, Provinsi Ghazni, Agustus 2018 lalu. Pos itu dijaga oleh penduduk lokal pro-pemerintah. Taliban juga membakar permukiman penduduk Hazara. Namun Taliban, lewat pernyataan yang diunggah di situsnya, membantah menargetkan etnis atau sekte tertentu.

Namun sebagaimana diberitakan Aljazeera, komandan Taliban Maulawi Mohammed Hanif pernah menyerukan ke kerumunan orang di kawasan Afganistan utara pada pertengahan 1990-an, "Hazara bukan muslim, Anda bisa membunuh mereka." Orang-orang Hazara pernah menjadi korban peristiwa brutal di Mazar-i-Sharif pada 1998, saat ribuan Hazara dibantai secara sistematis. Banyak orang Hazara yang lari ke Iran atau sampai Eropa, juga belahan bumi lainnya untuk mencari selamat.

Mundur ke akhir Abad 19, Raja dari etnis Pashtun, Amir Abdul Rahman Khan pernah memerintahkan pembunuhan semua orang Syiah di Afghanistan tengah. Menurut antropolog Thomas Barfield, puluhan ribu orang Hazara tewas. Orang-orang Hazara juga dijual sebagai budak di akhir Abad 19.

Simak berita-berita tentang balada pencari suaka di detikcom.


(dnu/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>