DetikNews
Sabtu 02 Februari 2019, 21:24 WIB

Kata Warga Sekitar Rudenim Jakarta soal Pengungsi dari Dua Benua

Danu Damarjati - detikNews
Kata Warga Sekitar Rudenim Jakarta soal Pengungsi dari Dua Benua Pengungsi pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Sudah satu setengah tahun lokasi sekitar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta menjadi titik kumpul para pengungsi dari negara-negara konflik di Benua Asia dan Afrika. Meski Rudenim sudah tak menerima mereka menjadi penghuni sel-selnya, ada saja pengungsi baru yang datang ke titik ini.

Para pengungsi dari Afganistan, Sudan, Somalia, hingga Irak sudah kadung akrab dengan suasana Jalan Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat. Mereka masih berharap petugas-petugas dari IOM (Organisasi Internasional untuk Migrasi) datang menyantuni mereka sebagaimana yang terjadi sebelum Maret 2018.

Warga menilai mereka sudah semakin tertib, tidak seperti sekitar 2017 atau 2018, saat jumlah mereka sedang banyak-banyaknya. Saat itu sering terjadi ribut-ribut antarmereka sendiri. Pemicu keributan sungguh miris: berebut makanan.

"Ributnya karena masalah pembagian saja. Kadang-kadang kalau ada yang membagi nasi, taruh ke sini dulu, yang 'putih' ke sini, nyerang. Mereka kan nggak ngerti, ketakutan (tidak dapat makanan)," kata Ketua RT 007/011 Kelurahan Kalideres Jakarta Barat, Agus. Pria 33 tahun ini punya rumah toko sekitar 10 meter jaraknya dari tempat pengungsi nongkrong.



Yang dia sebut pengungsi 'putih' adalah para pencari suaka asal Afganistan yang menjadi mayoritas di antara pengungsi. Ada pula pengungsi-pengungsi kulit hitam dari Sudan dan Somalia. Pembagian makanan yang tidak terkoordinasi dengan baik sering memicu ribut antarpengungsi pada tahun lalu. Namun kini, pembagian makanan sudah diatur sedemikian rupa lewat perwakilan masing-masing pengungsi sehingga keributan bisa dihindari.

Kata Warga Sekitar Rudenim Jakarta soal Pengungsi dari Dua BenuaKetua RT 007/011 Kelurahan Kalideres Jakarta Barat, Agus. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Dia masih ingat keributan bak tawuran pernah terjadi pada tengah malam. Ada pula kejadian seorang pengungsi menggores mobil warga karena masalah akses Wi-Fi gratis.

Namun, karena jumlah pengungsi berangsur turun, keributan juga menurun. Dulu pengungsi bisa mencapai sekitar 600 orang dan kini hanya tersisa sepertiganya. Sebagian pencari suaka sudah terangkut IOM untuk ditempatkan di penampungan yang layak, ada pula yang sudah diarahkan ke negara tujuan. Masih ada pengungsi-pengungsi angkatan satu setengah tahun lalu, namun banyak pula pengungsi yang baru di Kalideres.

"Ini baru lagi. Berisik, anak kecil mau kita larang juga gimana," ujar Agus.

Kata Warga Sekitar Rudenim Jakarta soal Pengungsi dari Dua BenuaAnak-anak pengungsi dari Afganistan di Kalideres. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Dia mengamati kondisi di wilayahnya, sebagian dari pengungsi mampu menyewa rumah kontrakan seharga Rp 500 ribu hingga Rp 1,1 juta. Ada yang menggunakan dana pribadi, ada pula yang bisa menyewa kontrakan karena dibantu lembaga pemerhati pengungsi. Relawan LSM dan warga umum juga sering memberi para pencari suaka makan dan minum.

"Kalau siang di pinggir jalan, biasa nyari perhatian, buat makan. Kalau malam nggak ada di pinggir jalan, tapi ngontrak di kontrakan-kontrakan warga," kata Agus.

Saat detikcom menanyai beberapa pengungsi, memang benar ada yang menyewa kontrakan. Salah satunya Abdul Zabi (29) dari Afganistan. Kontrakan bisa dia sewa karena dibantu oleh lembaga swadaya masyarakat Selasih. Kontrakan berisi lima keluarga, dia mempersilakan istri dan dua anak kecilnya tinggal di kontrakan, sedangkan Zabi memilih tak ikut menyesaki kontrakan. Dia tidur di tenda pinggir jalan.

Anak-anak pengungsi juga diamatinya sudah mengerti bahasa Indonesia, meski belum mahir betul. Dia khawatir akan keselamatan anak-anak itu bila terus-terusan hidup di pinggir jalan.

"Saya juga sudah ngomong, kalau bisa jangan di sinilah. Bukan apa-apa, masalah sampah, kenyamanan warga juga terganggu sekarang. Anak-anaknya lari-lari, ngerinya ada mobil atau apa. Anak-anak kan susah dibilangin," kata Agus.



Seorang pedagang elpiji di sebelah Rudenim bernama Edi (45) mengaku kadang memberi kopi untuk pengungsi yang nongkrong di lapaknya. Dia mengerti tidak bisa mempekerjakan para pencari suaka karena memang dilarang negara. Di sisi lain, sebagian dari mereka amat membutuhkan bantuan.

"Pengungsi yang pakai tenda untuk menginap itu sekitar 50 orang jumlahnya, itu yang benar-bener nggak ada duit itu," kata Edi.

Juru parkir di seberang Rudenim, Harun (52), mengamati para pengungsi sebagai orang-orang yang datang dan pergi sejak setahun belakangan. Mereka sering menjawab salam Harun.

"Mereka nggak ganggu juga sih. Damai-damai saja di sini. Mereka juga ngerti, dewasa," kata Harun.

Simak berita-berita tentang balada pencari suaka di detikcom.



(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed