"Data pasien ada 813, meninggal nol. Kota paling banyak kasus adalah Jakarta Selatan dengan 277 pasien, disusul Jakarta Timur dengan 226 pasien, Jakarta Barat 220 pasien, Jakarta Utara 51 pasien, dan Jakarta Pusat 39 pasien," ucap Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti saat dihubungi, Jumat (1/2/2019).
Banyaknya tanah kosong di Jakarta Selatan menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian DBD di sana. Perlu pengawasan oleh petugas kelurahan dan masyarakat untuk menjaga tanah kosong agar tidak jadi sarang nyamuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 8 Orang Meninggal Dunia, Sulsel Waspada DBD |
"Jadi, kayak kemarin pada saat saya turun ke Jakarta Selatan, ternyata di Jakarta Selatan itu banyak tanah kosong yang pemiliknya (tak tahu) di mana. Jadi sangat... Pak Wali dilibatkan kepada tim pak lurah dan PPSU-nya untuk menjaga di situ. Karena kan kita prinsipnya satu rumah satu jumantik," ucap Widyastuti.
Widyastuti menyebut Jakarta menjadi salah satu daerah endemik nyamuk demam berdarah. Pihaknya pun mulai melakukan antisipasi dan mendatangi warga yang dilaporkan mengalami panas tinggi.
"Jakarta daerah endemik, apabila kasusnya meningkat seperti ini, kita patut curiga dalam waktu sehari ada keluarga yang panas, maka langsung diperiksa apakah dia mengidap DBD atau bukan. Karena, kalau DBD, harus segera ditangani," kata Widyastuti.
Namun masyarakat diminta tidak asal melakukan fogging. Fogging bisa membuat nyamuk kebal dan sulit dikendalikan.
"Kan ada nih institusi atau mungkin (pihak) tertentu yang melakukan fogging secara utuh pada saat tidak ada apa-apa. Itu khawatirnya adalah (nyamuk) jadi resisten. Kayak obat, kalau diminum tanpa indikasi yang kuat, nanti lama-lama si nyamuk bandel," ucap Widyastuti. (aik/rvk)