6 Polisi Korban Bom Kedubes Australia Naik Pangkat
Selasa, 13 Sep 2005 16:02 WIB
Jakarta - Setahun sudah bom yang meledak di depan Kedubes Australia berlalu. Polda Metro Jaya mengganjar enam anggotanya yang menjadi korban terorisme itu dengan kenaikan pangkat luar biasa. Kenaikan pangkat diberikan satu-dua tingkat lebih tinggi.Kenaikan pangkat itu diberikan Kepala Direktorat Pengamanan Objek Vital (Pamobvit) Kombes Pol Jhony Ratua Hutajulu di Polda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (13/9/2004). Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Tjiptono dalam siaran persnya menyatakan, keenam polisi itu mendapat kenaikan pangkat luar biasa karena telah melaksanakan tugas kepolisian yang secara langsung berjasa melampaui panggilan tugas.Keenam polisi itu yakni Aipda Ki Maulana, anggota Brimob Polda Metro Jaya, Brigadir Asep Wahyudi, anggota Direktorat Pengamanan Objek Vital dan Abriptu Wahyudianto, anggota Satuan Brimob Polda Metro Jaya. Ketiga orang itu mendapatkan kenaikan pangkat dua tingkat lebih tinggi.Sedangkan tiga lainnya yang mendapat kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi yaitu Bripka Heri Pramonon, anggota Satuan Brimob Polda Metro Jaya, Briptu Andi Nugroho Putro, satuan Brimob Polda Metro Jaya dan Brigadir Ram Mahdi Maulana, anggota Direktorat Pengamanan Objek Vital.Pemberian kenaikan pangkat luar biasa tersebut berdasarkan surat keputusan Kapolri nopol.Skep/802/X/2004 tanggal 25 Oktober 2004. Dan kenaikan pangkat tersebut terhitung mulai tanggal 15 September 2004. Bom meledak di depan Kedubes Australia, Jalan Rasuna Said, Jakarta pada 9 September 2004. 11 Orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat bom tersebut. Salah satu korban yang selamat, Asep Wahyudi, yang mendapat kenaikan pangkat menyatakan, bom Kedubes Australia tidak akan membuatnya trauma menjadi polisi. "Saya tidak takut dan tidak trauma karena dari SMP saya bercita-cita jadi polisi," kata Asep usai acara kenaikan pangkat itu. Asep Wahyudi menghabiskan waktu 8 bulan di Singapura untuk menjalani pengobatan atas biaya pemerintah Australia. Dia baru kembali ke Indonesia pada 27 Mei 2005. Pria yang saat bom meledak bertugas sebagai penjaga keamanan di pintu masuk Kedutaan Besar Australia itu kini mengalami gangguan komunikasi dan cacat pada kedua kakinya. Saat ini, ia masih harus menjalani operasi pita suara dan pemulihan fisik akibat terkena serpihan bom.
(iy/)











































